Ingkar

 “Listen to your heart. You will understand”

-Pocahantas, Disney version-

 

Hidup itu keras dan berisik, oleh karenanya kita mulai lupa mendengarkan kata hati. Kita bilang pada diri sendiri, “Jangan banyak feeling, mending kita main rasional.”

 

Tapi pada kenyataannya, aku sendiri banyak menyesal terlalu mengandalkan rasio otak. Sebuah contoh sederhana adalah saat aku dimintai masukan oleh seorang temanku.

 

Dia bertanya padaku, “Danz, boleh nggak kita ngecengin kecengan temen kita? Temennya nggak deket-deket banget kok.”

 

Aku memikirkan jawabannya, pada ketika hatiku berkata, “Nih orang udah tau perbuatannya salah, malah ditanyain.” Tapi pada saat itu aku masih naif, dan berpikir bahwa ‘hidup ini keras, harus dilawan habis-habisan’ jadi aku malah memilih jawaban, “Ya, boleh aja, asal pake persaingan sehat.” karena kupikir, ‘memang semua sah dalam cinta dan perang kan? Lagian belon nikah ini.’

 

Itu adalah jawaban yang sampai saat ini aku sesali habis-habisan karena setelah pembicaraan itu, temanku terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada orang yang juga disukai oleh temanku yang lain. Ternyata yang disebut sebagai ‘temen nggak deket banget’ itu, hampir setiap hari pulang bareng dengannya. Dia adalah temanku juga, dan aku sayang dengannya dan aku juga sangat menikmati guyon-guyon pendek darinya yang duduk di bangku belakang. Aku kesal karena membiarkan orang lain menyakiti temanku yang ini. Tapi aku bingung karena orang yang menyakitinya adalah temanku juga. Karena kebingungan, aku membawa rasa kesal untuk waktu yang lama dan baru kuketahui selalu sampai kubawa sampai hari ini.

 

Aku selalu berpikir bahwa aku telah menciptakan seorang monster, dengan membenarkan sikap buruknya. Aku merasa buruk karena telah membenarkan sebuah perbuatan yang buruk dan membiarkan perbuatan buruk itu menyakiti orang lain.

 

Dan sampai sekarang, ketika aku melihat apa yang dilakukan oleh temanku yang meminta pendapat padaku, aku hanya melihat bahwa dia terus-terusan menyakiti orang lain. Bahkan aku pun menjadi sakit dengan perbuatannya, dan kupikir itu salahku sendiri. Harusnya saat itu aku tidak mengingkari kata hati sendiri.

 

Dalam cara yang menyakitkan, aku belajar untuk berani mendengarkan kata hati, dan berhenti meremehkannya.

 

Terima kasih hidup. Semuanya bakal tambah seru mulai dari sekarang :D

One thought on “Ingkar

  1. tuh kan, postingan ini danz!! btw, lu gak nyiptain monster kok. Manusia itu bakalan selalu bikin salah, ya lu bikin salah sekali2 juga ndak papa.

    berdoa saja temen lu mendapat pencerahan dari kesalahannya…. sebagaimana lu juga menyadari kesalahan lu..

    *tsah…*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s