Percaya ndak percaya

Ada hal-hal yang harus dialami dulu sebelum mempercayainya. Salah satu contohnya adalah,

“Perceraian melukai perkembangan anak.”

Ternyata ibuku perlu waktu yang lama untuk mempercayai hal ini. Mungkin beliau tahu, tapi tidak sepenuhnya mengerti.

Waktu aku masih di Amerika (6-7 tahun), terkadang diadakan acara temu orangtua murid yang cukup ramai. Semua orangtua murid bekumpul, dan berbagi dengan anak-anak lainnya dan mengakrabkan diri. Pada kesempatan seperti itu, ibu-ibu akan menyumbangkan berbagai macam kue-kue kecil yang enak.

Pada suatu pertemuan, ibuku membuat blueberry cheesecake andalannya. Ibuku sangat bangga dengan kue ini, karena ibuku merasa tidak pandai dalam membuat makanan manis. Ketika sampai di sekolah, ibu membagi-bagikan kue ini dengan senang, dan tidak ada hal yang aneh sampai tiba waktunya pulang….

Pada saat aku mau mengambil jaket di rak murid, tiba-tiba aku didatangi salah satu anak perempuan sekelasku yang mengatakan,

“Kue buatan ibumu gak enak!”

Syok sekali rasanya mendapat perkataan tersebut dari teman sendiri. Sampai-sampai kepala itu berputar karena tidak percaya ada orang yang sebegitu teganya mengata-ngatai hasil karya orang lain. Dan lebih pusingnya lagi, kalaupun memang tidak enak kenapa anak itu sampai harus sengaja memberitahuku.

Di antara rasa bingung, ketika sampai di rumah, aku menceritakan kejadian di rak jaket. Mendengar ceritaku, ibu mengernyit dan berkata,

“Hah? Ndak mungkin. Anak itu malah bilang kuenya enak.”

Apa? Aku mendengar perkataan si anak itu dengan sangat jelas kok. Dia benar-benar mengatakan kalau kue ibuku tidak enak tapi dia malah bilang enak ke ibuku! Aneh!

Aku ngotot kalau aku tidak salah dengar tapi ibuku tetap tidak percaya. Sakit hati juga tidak dipercaya oleh ibu sendiri tapi aku hanya terdiam saja. Untuk beberapa tahun ke depan, terkadang perkara “kue” ini sering terngiang ketika dimarahi oleh guru atau ada perkara “geng-gengan” cewek. Aku sering mengalami masalah kepercayaan gara-gara perkara “kue” itu. Terkadang aku sulit mempercayai kata-kata orang lain atau malah cenderung pendiam karena takut tidak dipercaya.

Dan pada suatu hari, di umur 14 tahun, aku memutuskan untuk menceritakan perkara “kue” ini lagi kepada ibuku. Aku pun mulai bercerita lagi dari awal hal yang terjadi, dengan bahasa yang sangat hati-hati. Kali ini ibuku menggaruk-garukkan kepalanya dan berkata,

“Ohya? Ibu ndak inget. Tapi kasian anak itu, orangtuanya cerai. Mungkin dia pengen punya ibu.”

Mendengar jawaban yang baru ini, rasanya beban kalori-kalori si “kue” itu langsung lenyap seketika itu juga. Ternyata dulu, ibuku tidak tahu betapa besarnya perpisahan orangtua pada anak. Perlu kebijaksanaan bertahun-tahun untuk benar-benar mengerti dampak perceraian. Dan untukku sendiri, perlu bertahun-tahun juga untuk mengerti bahwa kepercayaan tidak selalu bersifat instan seperti kopi sachet. Terkadang kau harus mulai menanam pohonnya, mengambil buahnya, mengolahnya, menumbuk, baru bisa diseduh.

Banyak hal yang perlu dialami untuk dipahami. Beruntung aku diberi kesempatan untuk mengerti banyak hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s