Stranger on MY BED!

Gadis di atas ranjang.

Dari dulu aku tahu kalau aku tidak akan puas dengan hanya menjadi “si gadis di atas ranjang” dan sekarang pun hal itu tidak berubah. Untuk alasan sederhana itu, tadinya aku mau membuat tulisan ini menjadi tulisan yang “membakar”, tapi kuurungkan.

Ada hal-hal yang lebih penting dilakukan, salah satunya adalah mencintai diri kita sendiri.

Jangan salahkan saya hanya karena itu benar.

Semuanya berawal dari sebuah pernyataan sederhana yang kubaca dari sebuah novel metropop,
“Jangan sampai gadis di ranjangmu tahu kalau kau mencintai gadis itu juga.”

Itu adalah pernyataan yang paling menjijikkan yang pernah aku baca. Tentu saja pernyataan itu diikuti dengan dalih-dalih tentang ketakutan bahwa nanti si gadis ranjang terluka, menjaga hubungan, dan banyak alasan lain yang aku rasa pengecut. Padahal bilang saja kalau si tokoh utama tidak berani jujur. Terus terang menurutku itu akan lebih baik.

Aku mengeluhkan rasa jijikku ini dengan si pemilik novel. Yang dia katakan malah membuatku pening. Katanya, pernytaan itu manusiawi sekali dan lumrah. Laki-laki berhak seperti itu, dan pilihannya ada di si perempuan. Sanggupkah dia hanya menjadi “si gadis ranjang”? Saat itu aku terdiam, dan termenunug di balkon lantai 3 sambil memelototi orang lalu lalang, temanku pun menawarkan untuk membelikan makan siang. Untunglah dia pergi membeli makan siang karena saat itu juga aku menangis.

Menangis karena jijik.

Dan kali ini bukan jijik karena laki-laki bisa menduakan hatinya. Tapi saya jijik, bahwa di dunia ini, bersikap setengah-setengah, tidak bersunguh-sungguh adalah biasa. Orang-orang melumrahkan bersikap tidak tegas dengan dalih, “saya manusia” tapi di saat yang bersamaan menuntut tanggungjawab. Saya merasa sangat jijik, tapi saya rasa saya hanya tidak mengerti.

Kata temanku, “Kenapa lu susah gitu? Lu ndak mengalami itu kan?”

Jawabannya: tidak akan pernah tahu. Hanya Pemilik hati yang tahu. Yang aku tahu, hanya diperlukan keberanian untuk mengatakan apa yang aku inginkan. Jelas-jelas aku tidak ingin hanya menjadi “si gadis ranjang” atau “si gadis yang bisa dipertahankan”. Aku juga tahu, bahwa aku akan selalu berbeda. Aku tidak akan pernah mengiyakan istilah “boleh tidak bersungguh-sungguh karena kita manusia”.

Yang bisa aku lakukan adalah berani menerima orang lain.
Tentu saja diperlukan banyak kesabaran untuk tidak berteriak terlalu lantang dan mulai merangkai kata dengan hati-hati.

Bukankah lebih penting arti dari bunyi?

Aku sadar, bahwa aku akan selalu sedikit berbeda.
Tapi aku sadar benar itu adalah masalah kalian, bukan masalahku.

-Silakan menangis bila dirasa perlu-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s