Kriteria Indah dan Normal

Merindukan foto seorang wanita. Boleh cantik, boleh tidak. Hanya wanita. Saat melihatnya saya ingin melihatnya bahagia hanya karena dia seorang wanita, bukan karena dia saat itu cantik atau harus cantik. Hanya bahagia karena dia telah terlahir. Dan meskipun keesokan harinya dia terbangun, dia mendapati bahwa dirinya adalah laki-laki, tidak sedetik pun dia menyesal karena hal itu tidak akan mengalahkan jati dirinya.
Merindukan foto seorang manusia.

Menyikapi komentar dua laki-laki mengenai payudara wanita,
“Ndak penting gede ato kecil. Yang penting mo nyusuin anak gwa.”

Beberapa kali aku terlibat dalam pembicaraan tentang payudara. Sekarang aku ingin menulis tentang seputar payudara ini.

Aku tidak pernah sepenuhnya puas dengan tubuhku. Terkadang aku merasa bahagia-bahagia saja tapi terkadang aku merasa cemas bahwa sebenarnya ada yang salah. Dan pada suatu hari aku cemas dengan bentuk payudaraku. Hal itu terjadi setelah pembicaraan singkat dengan temanku mengenai suatu adegan di film “American Beauty”.

Itu loh, adegan putri si pemeran utama membuka atasannya di depan jendela buat dipamerin ke cowok di rumah sebelah.

Nah beranjak dari adegan itu, temanku berkomentar, “PD pisan. Padahal meuni rayut kitu.”
Saat itu alisku berkedut dan aku berkata, “Hah? Masa sih?”

Serius. Masa sih? Rasanya payudara si cewek itu baik-baik saja. Keduanya terletak di depan. Keduanya punya areola. Keduanya juga tidak terlihat menjijikkan dalam opini pribadiku. Tapi kata temanku, payudara si cewek itu tidak bulat seperti payudara gadis, agak terlalu ke arah samping (terlalu menjauh satu dengan yang lain).

Saat itu aku agak syok.

Busyet lah. Masa yang kek gitu aja disebut rayut? Bukannya cewek-cewek Ethiopia juga gak bulet-bulet amat bentuk payudaranya? Sebenernya kayak apa sih bentuk yang normal? Kalo gwa baca buku anatomi, kok kek semua payudara lainnya sih??

Akhirnya di otakku penuh dengan payudara-payudara-payudara sampai pada akhirnya aku browsing mencari tahu bentuk normalnya.

Pada proses pencarianku akan bentuk yang “normal”, aku menemukan situs yang menarik. Di situ dipampangkan beberapa galeri foto payudara yang seharusnya dianggap pemiliknya normal. Aku melihat satu per satu foto di sana, dan tebak? SEMUANYA OK-OK AJA TUH! Aku tidak melihat apa yang dikeluhkan para pemilik di foto itu!

Dan ternyata memang begitu. Tidak akan ada bentuk dan ukuran yang “supernormal” kan? Payudara cuman sebuah bagian tubuh wanita seperti halnya kaki, tangan, leher, pantat, dsb.

Apa sih kriteria normal itu?
Apa sih kriteria indah itu?
Apa sih yang pasti bisa membuat bahagia pasangan kita?
Apa sih yang bisa membuat kita dicintai?

Satu jawaban yang pasti. Yang pasti bukan payudara. Titik.

Di situs itu, aku menemukan hal yang menarik. Di Amerika, seorang perempuan kuliahan berkomentar tentang fungsi payudara untuk menyusui anaknya sbb;
“Apa? Menyusui? Maksudnya sperti sapi??? Iiihhh!!!”
Sedangkan di pedalaman Afrika, di mana para perempuan sehari-hari tidak memakai atasan, dan menyusui di muka umum, seorang perempuan mengomentari tentang kegemaran laki-laki bule yang terangsang melihat payudara wanita.
“Maksudnya laki-laki itu seperti bayi???”
Dan si perempuan tertawa terbahak-bahak.

Bukankah persepsi itu lucu?

Dan menyangkut kedua laki-laki yang memberi komentar, “Ndak penting gede ato kecil. Yang penting mo nyusuin anak gwa.” Aku merasa sangat bangga mengenal kalian berdua

One thought on “Kriteria Indah dan Normal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s