Kebiasaan Saat Kecil

Saat aku masih kecil, kira-kira sampai berusia 6 tahun, orangtuaku selalu menyempatkan membacakan dongeng untukku setiap malam sebelum tidur. Kebiasaan itu tidak ada kaitannya dengan negara yang ditinggali saat itu (orang Amerika punya kebiasaan membacakan dongeng pada anak-anaknya sebelum tidur). Kebiasaan itu berkaitan erat bahwa sampai aku berumur hampir 2 tahun, aku belum mengeluarkan kata pertamaku.

Hal itu tentu saja membuat orangtuaku panik. Ditambah lagi aku mempunyai kebiasaan berjinjit ketika berjalan dan paling tidak suka dipeluk dan kerjanya lari-lari di dalam rumah sambil pura-pura membaca buku telepon (yellow pages). Kedua orangtuaku mengira bahwa aku ini pasti antara hiperaktif atau antara autis. Atas dasar dugaan ini, orangtuaku membawaku ke psikolog anak-anak.

Psikolog yang didatangi saat itupun sangat heran melihat perkembangan gemar berjinjitku dan sampai melakukan beberapa test padaku. Tapi ternyata tidak ada kelainan yang terdeteksi dan kebiasaan berjinjit itu sepertinya hanya hobi (mungkin secara tidak sadar waktu kecil aku terkesan dengan wanita-wanita yang berjalan dengan hak tinggi jadi terinspirasi ikut berjinjit). Dan ternyata lagi, hal yang menyebabkan aku belum bisa mengeluarkan kata pertamaku adalah karena di rumah, kedua orangtuaku berbicara dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Indonesia. Hal itu membuatku sulit menangkap inti bahasa yang seharusnya aku kuasai.

Oleh karena itu, orangtuaku bersepakat bahwa mereka berdua akan menggunakan bahasa Inggris di rumah maupun saat sedang bepergian. Untuk membantu perkembangan berbahasaku, setiap malam mereka berdongeng padaku (dalam bahasa Inggris tentunya). Ternyata cara itu cukup efektif dan akhirnya aku bisa berbicara seperti anak lainnya.

Ternyata kebiasaanku saat kecil yang unik ya. Dan kebiasaan berjinjit itu terus berlanjut sampai usiaku sekitar 11 tahun (aku selalu naik tangga sambil berjinjit). Entah ide apa yang begitu merasukiku sampai punya kebiasaan berjinjit itu.

Tapi entah kenapa, aku merasa hebat karena tidak bisa berbicara waktu umur 2 tahun itu. Aku sih menangkapnya, bahwa waktu kecil aku punya kemampuan yang besar untuk belajar dari lingkungan sampai-sampai bikin bingung sendiri. Aku juga merasa bahwa dengan tidak berbicaranya aku pada waktu itu, menambah kemampuan orangtuaku untuk mengasihi anak-anak.

Bukankah semuanya senang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s