Gadis, Gadis, Wanita?

Seorang gadis kecil berpipi bulat menatap keluar jendela. Pohon yang masih membeku, membiaskan sinar matahari semi yang hangat. Gadis kecil itu memandang pohon itu terus-menerus dengan rasa terpesona. Tiap cabang pohon itu seakan-akan terperangkap di dalam balok es yang menunggu untuk cair.
Pemandangan itu tidak sedetik pun membuat si gadis kecil bosan. Mata kecilnya yang bersinar-sinar menatap dengan penuh takjub. Begitu takjubnya sampai tak sedetikpun ia curiga akan apa yang mungkin terjadi ketika ia beranjak dewasa.

“Dina, gwa udah mikirin ini serius dari dulu,” kata anak laki-laki yang duduk di bangku depanku. “Gwa sudi jadian ama lu kalo lu ganti badan.”
Aku memelototkan mata dengan takjub (dan bukan artian takjub yang bagus kalau mau tahu). Si anak laki-laki, yang by the way bernama Raka, melanjutkan pemikirannya yang tidak bermoral itu.
“Beneran Din, gwa tuh bisa nerima lu, tapi bagian kepala aja. Wajah lu ndak ada masalah, ndak sama sekali, tapi bodi lu… tuker dulu lah!”
Raka kemudian membalikkan badannya lalu melanjutkan menyontek PR Bahasa Indonesia yang kupinjamkan sebelum dia mengatakan pernyataan naasnya. Harusnya pada detik ini aku mengamuk dan memencak. Tidak, tidak, aku tidak melakukannya, aku malah melongo lebih lama lagi dan memberikan komentar kalem,
“Oh gitu ya.”
Aku baru menyadari betapa menyebalkannya kejadian tadi setelah harus mendengarkan pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika di hari yang gerah, bel sekolah berbunyi, menunggu dijemput, makan siang di rumah, tidur siang, lalu bangun tepat pukul jam 3 dan shalat Dzuhur dengan terburu-buru.
“BRENGSEK!” umpatku di kamar lalu menggebuk-gebukkan bantal ke kasur.
Logis saja aku memberikan cap BRENGSEK untuk Raka, alasannya adalah:
1. Siapa yang nanya apa dia mau atau tidak jadian denganku?
2. Aku disuruh ganti bodi? Sekalian ganti genetika kali?
3. Aku meminjamkan PR pada orang brengsek
SIAL! Tahu gitu, mana kukasih contek anak sebrengsek itu. Ampun deh, apa lumrah untuk anak berusia 13 tahun memberikan nasehat pada orang lain untuk mengganti bodinya?

Wow, itu sangat normal!

Aku memutarkan bola mata dengan kesal lalu menyadari bahwa kekesalan itu malah bertambah ketika kusadari bahwa Raka adalah anak laki-laki yang paling ganteng seangkatan dan orang ganteng boleh melakukan apapun yang dia inginkan.

ARGH!

Sebelum tidur, aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis, tapi begitu kepalaku menyentuh bantal yang dingin, tidak terasa air mata itu menetes satu per satu. Hatiku terasa sakit sekali. Seakan-akan karena menyakiti pandangan orang lain, aku disuruh lompat dari lantai 7.

Gimana ini? Aku bahkan tidak tahu gedung mana yang sebaiknya kulompati!

Saat air mata mulai menggenangi kedua telingaku, barulah aku mulai bisa tertidur.

Sejak hari itu aku merasa kekurangan. Sejak hari itu aku tidak ingin menjadi diriku.

Padahal aku hanya berumur 13 tahun sekali saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s