First Things First

PERTAMAXXXXXXX!!!!!!!!!!!!!!!!!

Seiring dengan bertambahnya umur, aku mengalami banyak hal-hal pertama. Napas pertama. Tangis pertama. Langkah pertama. Kata pertama. Tanggal gigi susu pertama. Hinaan pertama. Pengalaman jatuh cinta pertama. Pacar pertama .

Tapi di antara sekian banyak hal-hal pertama yang pernah dialami, hal pertama yang tidak layak dialami adalah ‘pelecehan seksual pertama’.

Sayangnya aku mengalaminya, dan itu menyebalkan + menjijikkan.

Pelecehan seksual pertamaku terjadi pada saat aku duduk di kelas 4 SD. Terjadinya di sebuah permandian air panas. Saat itu aku lagi berendam sambil berjalan-jalan di dalam kolam. Tiba-tiba ada seorang om-om berambut gondrong berenang-renang mengelilingiku. Aku yang ketakutan dan sulit bergerak terpaksa menerima 2-3 towelan di pantat. Aku berusaha menghardiknya, tapi si peleceh itu hanya meminta maaf. Dan apa coba yang dia lakukan? Dia mencolek pantatku sekali lagi sebagai kata perpisahan.

Untuk beberapa saat aku termangu karena ada perdebatan di otakku antara “orang itu tidak sengaja nyolek” dan “aku merasa terhina sudah dicolek”. Bisakah dibayangkan kalo dua hal itu tidak cocok untuk diproses oleh seorang anak kelas 4 SD yang bahkan tidak tahu apa itu urusan selangkangan?

Karena aku termangu cukup lama, akhirnya aku menangis juga. Ibuku yang saat itu sedang memotretku yang sedang berenang memanggilku dan bertanya apa yang telah terjadi. Jadi aku pun berkata padanya bahwa aku sudah dicoel oleh om-om berambut gondrong. Ibuku pun bertanya padaku, “Udah dibalas?” dan aku jawab “Nggak bisa, orangnya dalam air.”

Ibuku menggelengkan kepalanya dan berkata, “Harusnya dibalas.”

Untuk beberapa tahun, aku agak sakit hati dengan komentar ibuku itu. Pada saat itu aku merasa tidak disayang. Saat itu aku baru saja dicoel oleh om-om menjijikkan dan hal pertama yang ditanyakan bukanlah keadaanku, tapi apa om-om itu sudah saya balas.

Gimana caranya? Dia itu om-om, tingginya mungkin sekitar 170cm. Masih untung cuman dicoel pantat, bagaimana kalau dia menarikku ke balik semak-semak di sekitar kolam dan melakukan hal-hal tidak senonoh?

Tapi sekarang, setelah aku berumur 21 tahun, aku berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh ibuku itu benar. Tidak ada umur terlalu muda untuk mempertahankan diri sendiri dari pelecehan seksual. Tidak ada ukuran tubuh atau tinggi tubuh yang terlalu kecil untuk berkata pada orang lain bahwa kamu merasa terhina dengan perlakuannya.

Apapun dirimu, usiamu, keadaan fisikmu, beranilah! Kamu punya hidup yang perlu dipertahankan. Kamu punya tubuh yang sudah dititipkan. Hati yang lemah hanya dibuat untuk berani kembali.

Pengalaman pertama yang tidak terlalu bagus bukan, tapi tidak semua pelajaran bisa didapatkan melalui cara yang lembut. Terkadang ada hal-hal menyakitkan yang harus dilewati. Tapi toh yang tidak membunuhmu hanya akan membuatmu lebih kuat kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s