First Blood!

Hari pertama mendapat haid adalah salah satu hari luar biasa di usia 11 tahunku. Ketika melihat bercak merah tua di celana dalamku, aku langsung merasakan euphoria. Hal pertama yang aku lakukan adalah berlari ke ibuku sambil mengacungkan celana dalam. Dan kalimat pertama yang dikatakan ibuku adalah “Kalau udah mens, udah ndak pantes lari-lari dalem rumah tanpa celana dalem.”

Kalau dipikir-pikir itu salah karena kapan pun itu tidak pantas untuk berlari-lari dalam rumah tanpa celana dalam

Tapi ternyata, perubahan tubuh yang kunanti-nantikan (karena aku adalah yang terakhir di kelas untuk mendapat haid) bukanlah sesuatu yang seindah aku kira. Untuk beberapa bulan pertama, darah yang keluar tidak terkendali, pernah suatu kali sangat banyak sampai membentuk kolam kecil di bawah tempat dudukku. Berkali-kali merasa was-was sampai memakai pembalut 3 lapis adalah hal biasa. Dan ketika payudara mulai membesar, timbul perasaan malu hingga jalan selalu membungkuk.
Rasa tidak nyaman yang kurasakan ketika memasuki fase puber kadang-kadang membuatku ingin menjadi laki-laki saja. Apalagi dengan bulu di tangan dan kaki yang kelewat lebat untuk perempuan. Kenapa nggak laki-laki aja? Apalagi kudengar Dorce merasa dirinya lebih dekat dengan wanita karena tidak punya bulu.

Beuh

Tapi, setelah melihat salah satu teman sekelasku waktu SLTP, aku menyadari bahwa apa yang kupikirkan bodoh. Dia adalah anak perempuan yang lebih cantik dan lebih populer di kelasku tapi terkadang aku merasa perih melihatnya. Ternyata di balik kelebihannya, dia masih punya kekurangan, sampai kelas 3 SLTP dia belum mendapat haid dan itu seringkali membuatnya risau.

“Akankah dia menjadi wanita?”

Pasti itu yang sering dia tanyakan pada dirinya sendiri.

Seseorang pernah bertanya padaku, “Penting ndak tok*t besar buat cewek?” Saat itu aku menjawab, “Penting, karena sering kali buat cowok itu penting.”

Setelah kupikir-pikir lagi, payudara, selain mempunyai fungsi tubuh (menyusui) juga punya fungsi untuk perempuan itu sendiri. Fungsinya adalah agar jangan pernah lupa bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang akan menjadi wanita. Berbanggalah karena diberi bentuk yang indah. Bersyukurlah karena sempurna.

Baru sekarang kupahami maksud bapak ketika memarahiku yang sering bungkuk karena takut payudaraku terlalu menonjol,

“Jangan bongkok! Bangga punya s*s*!”

Luar biasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s