Seperti apa?

“gw dulu hobi bikin komik dari es de mpe sma. tapi skarang uda g lagi, ga tau de masih bisa gambar ato ga, udah 4 taon bo… ntar klo misal gw udah bisa lagi gw hub de. keinginan buat bikin komik si masih ada.. tapi gw masih ga yakin uy ama teknik2 toning sgala macem, klo pake komputer jg masih kagok. kyknya emg nyari anak SR aja de…”

QUOTE(BalthazoR @ 6 May 2008, 09:03 PM)

Membaca post di atas mengingatkan bahwa aku pun pernah mempunyai hasrat yang menggebu-gebu untuk membuat komik. Kalau tidak memegang pensil dan mencoret-coret kertas sekali sehari, rasanya tangan gatal-gatal dan bisa sampai akut (terus jangan-jangan masuk ICU segala???.

Tapi ternyata hasrat tinggallah hasrat, ketika tes untuk masuk jurusan DKV, aku tidak lulus. Janjiku pada diri sendiri, adalah kalau aku tidak masuk DKV, aku akan menuruti keinginan orang tuaku untuk masuk jurusan Farmasi. Dan di sinilah aku sekarang, jurusan Farmasi, sudah tingkat akhir, berjuang untuk menyelesaikan TA, hanya pernah mengulang kuliah sekali meskipun selalu masuk kuliah dengan agak setengah hati.

Aku tertohok membaca posting tersebut, seakan-akan setelah gagal lulus tes masuk FSRD, aku menyerah untuk tidak berkarya lagi.

Seperti inilah aku mendewasakan diri?
Dengan melupakan mimpi?

Orang bisa mengatakan lebih baik lupakan idealisme, dan sekarang ini aku sudah berada di jurusan yang dapat merincikan masa depanku. Tapi apa gunanya kalau aku tidak jatuh cinta pada apa yang kukerjakan? Itu hanya akan membelikanku masa depan yang cukup untuk tidak menjadi parasit di hari tua tapi tidak akan memberikanku kepuasan.

Membuatku takut,
Akankan aku mati dengan tidak puas?
Seperti inikah kedewasaan yang aku pilih?

Seperti apakah masa depanku? Aku tidak tahu.
Dan orang dewasa seperti apakah aku nanti? Aku pun tidak tahu.
Tapi aku akan menemukannya, keberanian untuk menentukan sikap dan keberanian untuk memilih jalan yang ingin ditempuh.

Untuk saat ini, aku harus menjalankan pilihan yang telah aku buat ketika gagal lulus ujian FSRD. Bahwa aku akan masuk jurusan Farmasi, lulus dari jurusan itu dan memberikan kebahagiaan kepada orang tuaku dengan menjadi orang tua dari seorang sarjana ITB.

Hal-hal yang kemudian menjadi gangguan bagi orang lain adalah urusan mereka. Urusanku adalah bagaimana aku bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan diri sendiri.

Menjadi wanita yang bangga dengan keputusannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s