Category Archives: singling

Menu Spesial

Menu Spesial

Menu hari ini adalah mengenai penyajian hati. Jadi seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Minggu lalu aku, Muthe, Ir, Finna, dan Dewi Sa ke festival MahaDharma yang diadakan di monumen perjuangan. Pas sampai di sana sih, belum ada apa-apa yang ramai. Katanya sih akan ramai sekali pas malam. Karena kita adalah kumpulan cewek-cewek Cinderella, alias kumpulan cewek yang suka merasa tidak enak hati pulang lewat dari jam 12 malam (meskipun kadang-kadang aku bandel pulang malam karena asik bermain dengan teman-teman).

Ternyata yang namanya anak muda Bandung itu melakukan macam-macam hal ya. Ada yang suka bercocok tanam, yaitu Bandung Berkebun. Dapat bibit gratis dari stand ini, tapi belum menanamnya karena lupa terus mo nanam. Ada juga komunitas origami lipat-lipat (yang dilipat adalah kertas, bukan tubuh). Ada juga skater-skater, yang tentu saja bikin ngeri karena membayangkan seandainya aku yang jatuh (mungkin akan gempa ya). Ada juga komunitas yang sukses bikin Finna lari terbirit-birit, yaitu komunitas pecinta reptil (padahal reptil itu keren).

Karena yang namanya ke festival itu pasti melakukan hal-hal iseng, Muthe ke stand ramal-ramal lagi. Tadinya sih ingin menemani saja, jadi ikut duduk di stand itu. Tak sengaja bertemu Rima dan kawannya pas nunggu, terus jadi ngobrol-ngobrol tentang “seorang lelaki” (iya cewek itu gemar sekali bergosip ya). Setelah menunggu beberapa lama lagi, akhirnya datang giliran Muthe untuk diramal tarot. Karena kabitha setelah Muthe diramal, jadi ikut-ikut diramal. Yang diramalkan adalah hal yang klasik: jodoh.

Kata yang ramalnya: akan mendapatkan jodoh segera setelah bisa memaafkan semua sakit hati di masa lalu dan membuka hati lebar-lebar. Hanya bisa ketawa getir dengan hasil ramalan itu. Pertama yang dipikir adalah, “YA IYALAH.” Tapi setelah berpikir-pikir kemudian jadi menyadari bahwa, “Oh… jadi diri sendiri yang menjadi penghalang untuk maju dan meraih kebahagiaan.”

Bisa dibilang musuh terburukku adalah diri sendiri.

Setelah mendapatkan nasihat untuk membuka hati dan memaafkan orang lain, aku pun memikirkannya. Tentang membuka hati. Memang sih, tidak mudah untuk menyajikan hati di atas piring sembari bilang, “Ini hati saya, silakan cicipi.” Bisa saja kan ada resiko setelah menyajikan hati, yang menyicip akan bilang, “Astaga, rasa macam apa ini, buang buang!” atau “Ah, nggak ah, saya kenyang dan sepertinya terlalu besar porsinya.” atau “Uhm, boleh juga, tapi yang itu juga boleh, coba yang itu juga boleh.” atau juga “Ok juga sih tapi harus pakai garam dikit ya, mungkin gula juga atau bagaimana kalau dimasak ulang?”

Meskipun banyak kemungkinan yang tidak enak seperti itu, mungkin… mungkin saja ada yang bilang, “Enak ya, pas.”

Bisa dibilang para penjaja hati di luar sana hanya bertahan demi satu kemungkinan kecil saja yaitu sebuah remark singkat, “Enak ya, pas.”

-nyaw, penjaja hati-

Berpegangan Tangan

Berpegangan Tangan

“I wanna hold your hand. I wanna hold your hand!”

-The Beatles-

The Beatles adalah salah satu band yang legendaris karena kesederhanaannya. Menurut banyak orang, cara The Beatles mengungkapkan perasaan jatuh cinta begitu jujurnya karena sebenarnya sebelum semua hal-hal yang begitu rumit seperti “keseriusan”, “pernyataan cinta”, “pertanggungjawaban” semuanya berawal dari hal sesederhana “ingin berpegangan tangan”. Kepolosan yang diungkapkan dari keinginan berpegangan tangan tidak semua orang mengingatnya, jadi sangat menakjubkan rasanya ada seseorang yang mengingat hal sesederhana itu.

Aku adalah orang yang termasuk ke dalam salah satu orang yang merasa takjub dengan kesederhanaan tersebut. Setelah membaca sebuah komik lama yang sudah berdebu mengenai pengalaman berpacaran untuk pertama kali, aku jadi ingat betapa sederhananya berhubungan dengan lawan jenis sebelum semua resiko diketahui dengan jelas. Semuanya sesederhana “rasa malu bertatapan langsung”, “ingin sering ketemu dia”, “mengumpulkan keberanian memulai obrolan”, dkk. Sekarang setelah mengetahui segala resiko semuanya menjadi ” apakah diacukup berani untuk mengatasi rasa malunya bertapapan langsung?”, “apakah dia ingin ketemu saya?”, “apakah dia berusaha mengenal saya?”, dkk hal yang berbentuk tanda tanya dalam beragam bentuk.

Di luar dugaan, mengetahui resiko malah bisa merusak hal yang tadinya baik. Suatu hal yang tadinya polos dan anak-anak begitu didewasakan menjadi lambat dan tidak asik.

Tapi tidak semua hal yang dewasa itu lambat dan tidak asik. Di luar sana ada loh orang dewasa yang masih bisa asik, tapi karena mengetahui resiko, dia menjalani hubungan percintaannya dengan otak (yang entah bagaimana cara melakukannya pada saat kau harus menggunakan hati…).

Karena berpikir-pikir tentang bahwa perubahan kepolosan menjadi kehati-hatian, aku pun berpikir bahwa sepertinya aku juga mengalami penuaan yang seperti itu. Aku pun saat melihat lawan jenis menjadi berhati-hati tanpa alasan yang jelas. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah aku mengharapkan jenis ketertarikan lawan jenis yang salah.

Apakah aku mengharapkan “ingin selalu bersama” ketika secara naluri aku malah mengeluarkan “apakah kita mempunyai keinginan bersama?”

Tenanglah, bukan hanya kebanyakan kita yang berubah. Bahkan Beatles pun berubah:

“… love is more than just more than holding hands

… I would love to love you and that she will cry when she learns we are two, if I fell in love with you”

-The Beatles-

-nyaw, in a vintage feeling way, remembering old feelings from old songs and new feelings also from old songs-

Almost

Almost

Sudah mandi, sudah wangi and feeling very pretty.

Tapi kenapa?

Alasannya adalah pada hari kamis yang lalu, ibuku menelpon dan menyuruh pulang di akhir minggu. Katanya ada yang mau “kenalan”. Karena sedang sangat single, lumayan juga ada yang mau “kenalan”. Kata ibu, minta “kenalan”nya adalah hari ini (sabtu) siang. Aku konfirm Ok.

Tapi saat aku sampai di rumah kemarin malam, ibu  ngasih kabar kalau janji “kenalan”nya dibatalkan dan diubah ke hari minggu jam 10.00.

I am thinking now: “And that is why you will only be someone I know. That is if you ever have the balls to meet up. If there is another no show, than you might be just another stranger.”

Amanat:

Pada suatu event “kenalan”, you do not postpone. Saat cari kerja dan ada janji wawancara, saat si calon karyawan postpone janji wawancaranya, sudah hampir 100% dia tidak akan dapat pekerjaan itu.

Lalu kenapa orang berpikir hal itu akan berbeda untuk jodoh? Will God take your postpone appointment to greatness? Think not.

Tapi Tuhan Maha Pemaaf, jadi mungkin saja it’s Ok. Since I’m not God, aku berpikir untuk tidak memaafkan first impression yang seperti itu. Bukannya aku sombong dan tidak punya waktu, tapi di dalam perut aku tahu bahwa orang yang akan menundamu sekali, akan terus menundamu sampai beberapa kali. Mungkin dia hebat, sibuk, cumlaude, dan penyayang dengan keluarga tapi ….

Dan “tapi” itu sering kali berarti TIDAK.

-nyaw. Geleng-geleng kepala. He was almost this close to get a nice girl, than he postpone. Semoga aku sendiri tidak pernah menunda kesempatan-kesempatan hebat lainnya dalam hidup-

Mistake

Mistake

Ibu: kesalahan Danilah dulu tuh sama si MM

*dz pokerface mode on*

Looks like my mother have bigger regrets than myself.

Maybe she is ashame of giving birth to a girl who make stupid mistakes like picking on men that don’t love her back and can’t appeal sexually resulting to be unmarried.

Let that be her problem.

-I am privileged to do any mistake I want. I know consequences exists.-

2 AM

2 AM

Pada saat-saat yang apes, terpaksa menyetir dari Bandung ke Tangerang pada jam 2 pagi dini hari. Kalau lagi apes banget, jam 2 juga rame loh. Tapi kalau lagi gak terlalu apes, jam 2 sepi, seperti hari ini.

Jam 2 pagi, Dago tampak misterius. Dengan lampu jalanan yang hijau jadul dengan cahaya yang berwarna kuning, membuat jalan jadi bergantian terang gelap terang gelap tanpa kompromi. Agak mengingatkan pada film-film yang disetting pada jaman laki-laki masih memakai suspender untuk menahan celana dan perempuan memakai korset berkerangka untuk menciptakan efek “pantat”.

Lalu di saat-saat sepi seperti itu, aku akan membelok dan melewati Ganesha yang dicintai. Jalanan remang-remang dan menimbulkan misteri. Ada juga rasa memiliki dan sakit karena meninggalkan kandang gajah. Setiap melewati Ganesha, selalu berdoa dalam hati agar Allah SWT berbaik hati menjodohkanku dengan engineer dari ITB. Karena kurasa itulah satu-satunya cara agar tidak bilang selamat tinggal pada Ganesha tiap minggunya atau setidaknya suatu hari aku akan kembali dan mengajak anak-anakku bermain di tengah alunan not-not Indonesia Raya yang tenggelam di Plaza Widya. Juga kurasa, kalau suamiku engineer, dia akan mengerti apa rasanya jadi anak gajah yang selalu dikatai sombong dan punya kemampuan tidak sebesar arogansinya.

Tapi, tidak peduli perasaan seperti apa, mobil tetap melaju di tengah keheningan malam dengan gelap terang kontras berganti.

Cuman karena aku telah berjanji untuk melakukan hal yang luar biasa. Dan hal luar biasa itu tidak bisa ditampung di sebuah kandang gajah.

-nyaw, missing her childhood campus-

Meskipun tidak ingat salam Ganesha, aku sudah ingat bagaimana Ganesha dulu. Dari Ganesha yang full kehijauan dengan bangunan yang redup kuning dan daun di mana-mana menjadi retro dan sleek menyambut era digital dan komputerisasi.

Ya Allah, please make him an engineer unless it has no good on my sake than I will miss Ganesha forever :(

Side Dish

Side Dish

Waktu aku kecil, orang tuaku selalu panik dengan ke-rigid-anku berinteraksi dengan orang lain. Aku tidak suka bermain lari-larian bersama anak-anak lain dan aku akan menangis kalau disuruh menyapa orang lain. Karena sosok kepribadianku lemah, aku selalu menjadi “side dish”. Aku adalah barnacle boy-nya mermaid man, tapi versi yang tidak banyak berbicara dan suka tiba-tiba mengkhayal sendiri.

Beranjak dari anak yang lemah itu, yang selalu menjadi “temannya si A” dan tidak pernah diingat namanya, aku menjadi anak SMP yang merupakan “temannya si B” lalu anak SMU yang disapa di jalanan karena dia dapat mengenalkan orang itu kepada si C karena tentu saja aku adalah “temannya si C”.

Laila bertanya padaku, bagaimana mungkin aku bisa tahan berteman dengan orang-orang yang terlalu mentereng?

Lalu kurasa aku memang tidak terlalu memikirkannya (saat itu). Temanku baik, kita nyambung dan bisa ketawa bareng dan aku masih hidup. Ada kalanya aku benci sekali dengan keadaan itu, tapi lalu aku tidak menangis. Aku hanya menggambar menggambar dan menggambar dan aku tidak tidur. Ada juga kalanya aku ingin bunuh diri, tapi kurasa itu terlalu idiotik jadi itu hanya ide setan sepertinya. Yang sebenarnya adalah ada kalanya aku hanya ingin semua ini berakhir dan aku bersyukur ada kiamat.

Laila bilang itu hebat karena itu kuat.

Tapi kurasa ada beberapa kekuatan di dunia yang tidak ingin kau miliki. Di antaranya adalah kekuatan menjadi bayangan orang lain, kekuatan merasa kesepian,  dan kekuatan ditinggalkan orang lain.

Tapi ada kalanya kita tidak membentuk kekuatan kita, tapi itu adalah anugerah dan tidak bisa ditolak.

Dan ada kalanya kekuatan yang kita miliki itu palsu. Kekuatan yang ada hanya sebuah alibi untuk bertahan hidup.

Tapi aku tidak terlalu peduli. Main course atau side dish tidak mengubah kebenaran apapun. Semuanya hanya persepsi.

-nyaw-

Did I do?

Did I do?

Habis ngopi di Kopo Progo, makan-makan bareng laila. Ngomongin banyak hal, dan karena orang tua kita selalu saja menanyakannya (karena seharusnya saat ini kita sudah merencanakan pernikahan), salah satu topik yang termasuk ke dalamnya adalah:

“Masa tidak ada yang ngecengin?” dan “Apakah memang tidak pernah ada?”

Karena kita punya waktu luang yang sangat-sangat banyak, jadinya kita menyebutkan nama satu per satu dan menyebutkan kemungkinan. Lalu astaga… sepertinya, sepertinya mungkin saja gwa punya cukup banyak :(

Argh tidak….

Gwa memikirkannya berulang-ulang hari ini, dan gwa merasa sangat bersalah…. Berasa dosa banget.

Timbul pertanyaan,

Apakah gwa nge-flash cleavage waktu itu? Apakah gwa sering nyibak rambut? Apakah gwa sering “giggling” dan diartiin lain? Apakah gwa memberi signal yang salah?

Oh astaga…

Masalahnya adalah pernah ada suatu waktu, gwa sedang sangat menikmati segalanya. Gwa sangat suka bereksperimen dengan baju, whole look gwa, aksesoris, perawatan kulit, shampoo,model rambut. Gwa hanya menikmati segalanya tanpa banyak berpikir. Orang-orang akan berusaha ngajak gwa ngobrol, tapi gwa saat itu skeptis dan berpikir, “Oh dia kesepian dia perlu teman ngobrol”. Gwa menjadi social butterfly tanpa banyak memikirkannya.

Dan sekarang gwa jadi memikirkannya. Saat-saat gwa menjadi social butterfly dan dampaknya. Buat gwa secara pribadi adalah gwa jadi tahu betapa menyenangkannya ngobrol. Gwa suka ngobrol! Gwa juga saat itu berpikir ketemu jodoh gwa MM lewat ngobrol. Gwa juga berpikir bahwa banyak orang yang menarik setelah diajak ngobrol.

Tapi ternyata,

Tidak semuanya sekedar obrolan. Mungkin mungkin mungkin… beberapa ingin menjadi lebih dari sekedar teman. Lalu mungkin mungkin mungkin… gwa ngasih signal salah saat ngobrol. Mungkin gwa melakukan flirt atau dianggap melakukan flirt. Karena gwa tidak pernah banyak memikirkan apapun…. :(

Guilt guilt guilt.

Sekarang gwa pakai jilbab dan terlihat tua, tidak menarik dan tidak berbentuk karenanya. Orangtua gwa membencinya. Tapi sekarang setelah gwa memikirkannya, gwa SANGAT SANGAT SANGAT menyukainya!

Karena gwa ingin orang lain benar-benar mendengarkan gwa.

Gwa tidak mau dikenang sebagai flirty.

Gwa mau meminimalisir kemungkinan orang lain sakit hati karena “salah tangkap”.

Mungkin ini semua sepertinya kenarsisan dan ke-GR-an raksasa. Selalu saja ada kemungkinan bahwa aku mengkhayalkannya. Tapi gwa gak mau ambil resiko.

Gwa harap jilbab ini bisa menutupi aurat gwa dan membantu gwa memperlihatkan diri gwa yang sebenarnya di luar sana.

-nyaw, renungan malam, berharap dirinya memang GR dan kelewat narsis-

New Year

New Year

2011 dimulai dengan kasar. Keluarga gwa semuanya pergi berlibur ke Singapur. Gwa gak ikut karena udah kebanyakan ngambil cuti dan takutnya gak akan cukup kalau mau cuti lebaran dan cuti ikut Siaware. Haaa… jadinya tahun baru kemarin cuman nyampah di rumah, nonton sepanjang hari dengan memakai baju gym lusuh dan rambut berminyak. Awalnya berencana main ke Gramedia, tapi dapat info kalau diskon akhir tahun sudah habis, jadinya ya seperti itu tadi. Berleha-leha di rumah. Bahkan nge-net pun sepi, YM nyala gaka ada yang nyapa. Yang nyala cuman nyala. Cuman sekedar nampang lewat blackberry. Tidak menarik.

Lagi asik leye-leye dan berpikir tentang hal-hal yang aku sesali selama 2010, tiba-tiba di depanku ada film Twilight. Biasanya begitu beberapa menit pertama Twilight, aku akan langsung tertidur ngorok. Sering kali aku berusaha untuk menonton film ini karena penasaran, tapi tetap saja aku ngorok. Tapi saaat itu berbeda. Otakku sedang tidak jelas, sedang fuzzy, dan hebatnya aku dengan lancar menonton Twilight. Pendapatku: Ok. Tidak parah sekali lah…. Tapi bagian yang harusnya romantis aku tidak mengerti sama sekali.

Karena TVnya memutar langsung disambung New Moon, aku berpikir, “Y lah… sekalian nyemplung….” Lalu…. OMG, gwa suka banget New Moon! Dan alasannya tentu saja bodoh. Alasannya adalah karena tokoh Jacob tidak memakai kaon selama lebih dari setengah film. Wakakakakakak :lol: Penulis ceritanya (Stephanie Meyer): JENIUS. :p

Karena suka banget sama si Jacob tak berkaos, aku menonton siar ulang twilight series ini sampai 2 kali. Kurasa film apapun itu Ok asal cowok ganteng gak berkaos -_-

Dan…

Kemarin malam aku menonton film ketiganya, Eclipse dan sekarang merasa mual. Film itu terlalu romantis, sensitif dan emo.

Terlebih lagi,

Jacob tak berkaos lebih sedikit.

Haaa… mengecewakan….

Tapi sekarang jadi penasaran sama yang keempat. Apa kabarnya tuh semua orang yang keranjingan dengan “soulmate” dan “imprint” itu? Wkwkwkwk… Tapi harus kuakui, si Stepahnie Meyer jenius, skenario percintaan dia hebat. Apalagi yang lebih luarbiasa buat seorang cewek daripada cowok yang sudah menunggu berabad-abad untuk bertemu dengannya dan menginginkan kita bahagia meskipun dia akan melarat kehilangan kita tapi ujung-ujungnya menjalani hidup keabadian selama-lamanya dengan cowok yang bersinar seperti berlian di bawah matahari?

Wakakaka

Dan sebagai tambahan, apalagi yang lebih diinginkan daripada sempat ragu-ragu dan tertarik secara fisik sama cowok hot hampir tidak pernah berkaos yang akan merobek-robek cowok lu seandainya dia sampai menyakiti kita.

Wow. Perfecto!

Tapi ini bukan dunia yang seperti itu kan. Kenyataannya, saat perasaan kita terluka, kita sendiri yang harus mengatasinya.

Sayang sekali, laki-laki tidak berkaos yang hot hanya ada di gym. Dan mereka sedang menggaet laki-laki lain.

:p

Knowing

Knowing

Karena iseng-iseng, aku punya buku cara membaca wajah. Sebenarnya nggak iseng banget, tapi suatu tindakan sadar untuk mengira-ngira perilaku orang, jadi bisa lebih mawas dan tidak terlalu polos sendiri. Yang aku suka dari buku itu adalah di pembuka, penulisnya bilang kalau dia menggunakan ilmu baca wajah untuk dirinya sendiri. Karena sudah bisa membaca diri sendiri, setiap kali dia down atau gelisah dia cukup mengelus bagian wajahnya dan bilang “Ini adalah karena alis/kuping/dsb bawaanku…, sabar….”

Maklum kayak gitu, sangat membantu. Kalau ingin diterima seseorang, pastikan orang yang menerimamu 100% adalah diri sendiri. VVIP :D

Jadi ngomong-ngomong tentang mengetahui dan menerima diri sendiri. Belakangan ini, aku tidak melakukan hal itu dengan baik. Aku bahkan kehilangan semua bakat dalam sekejab mata. Ngegambar, nulis, formulasi, hampir-hampir tidak bisa melakukan itu semua (lihat saja tulisan-tulisanku yang belakangan tidak berstruktur). Tidak bisa melakukan semua itu, rasa-rasanya mencekik. Sama seperti tidak bisa bernapas, asma akut.

Bagiku, berkarya adalah napas.

Jadi karena aku punya masalah pernapasan, aku berlatih yoga. Sekarang in aku secara berkala berlatih untuk bernapas lancara, dan berusaha tidak menahan napas saat membaca email meresahkan di kantor.

Tapi terutama, aku saat ini sedang belajar untuk tidak merasa malu.

Ya kurasa aku merasa malu berat sampai merasa payah untuk melakukan apapun.

Sepertinya perasaan malu itu berasal pasca putus. Aku merasa malu bahwa saat aku frustasi dan depresi ingin menghabiskan seumur hidup sama orang yang aku cintai, orang itu ragu-ragu karena kelakuanku. Aku juga merasa malu saat aku ingin mengobrol dengan teman karibku (mantanku juga), dan mengejeknya itu membuatnya semakin yakin untuk meninggalkanku dan mencari orang lain.

Kurasa aku malu karena saat itu, orang yang kucintai tidak mengerti diriku dan melakukan backhand breakup untuk memastikan semuanya berakhir.

Kurasa aku harus berhenti untuk merasa malu. Sangat ingin dicintai kurasa gak salah. Mungkin orang lain melihatnya sebagai keputusasaan, tapi mereka cuman orang lain. Orang-orang yang benar-benar karib, tidak akan pernah membuatmu merasa malu, mereka malah akan tersanjung dan mencari tahu lebih banyak tentangmu tanpa memberi penilaian sepihak tanpa klarifikasi.

:p

Jadi saat ini, aku masih menangis tiap malam karena aku susah lupa hal-hal menyebalkan. Aku berusaha menulis lagi. Rencananya adalah aku ingin membuat cerita super panjang lagi sebagai proses penyembuhan, seperti saat aku menulis “Putri Standar” (itu adalah tulisan mengenai diriku yang paling mirip denganku, meskipun bentuknya dongeng). Aku belum pede sampai sekarang untuk menyentuh pensil, masih gemetaran, aku akan terus berusaha! Formulasi sih mau gak mau dilanjutkan, kurasa aku dapat formula shampoo yang menarik. Dan tidak lupa, saat ini aku beryoga dan berlatih pernapasan.

Saat aku merasa malu, aku akan ingat twit yang mungkin bagi orang lain sampah

#ZodiacFacts All Astrologers agree that #Scorpio is the sexiest of all zodiac signs, which may be why they are so desperate to find love

#ZodiacFacts #Scorpios are very emotional people who need love, crave, fight, and ask for it

Kupikir saat melihat twit ini, “Siapa sih yang ngga?” Tapi kemungkinan besar, karena dijadikan kalimat khusus, ada sekelompok orang di luar sana yang lebih mementingkan suatu aspek hidup daripada yang lain. Karena kebetulan aku termasuk sekelompok orang itu, aku tidak terlalu malu untuk bilang, “Aku mau dicintai.”

Sejujurnya aku belum sampai tahap pemilih. Katanya seseorang harus menjadi pemilih agar tidak disia-siakan. Masalahnya adalah mungkin aku agak gampangan/sederhana.

Semua penilaian ada di persepsi Anda.

-nyaw, malam-malam nulis blog abis gak bisa tidur karena nangis mulu, sekarang ngantuk-

Aqua Blue Feeling

Aqua Blue Feeling

MESKIPUN

Aku lagi gak sirik, gak suka, jengah, tidak mau tahu lagi tentang pernikahan dan semua muanya berkaitan dengan pernikahan. Hari ini aku berdandan lengkap *ya lengkap* untuk menjadi pagar ayu salah satu teman dekat saat SMU. Temanya adalah warna yang akuatik. Ada warna biru tua, biru donker, tosca, biru muda dan kuning pasir. Suasana yang akuatik. Temanku yang menikah terkenal sebagai si yang tidak mau kuliah dan mau menikah muda. Impiannya sejak kecil adalah menikah. Jadi meskipun lagi sensi tentang pernikahan, aku merasa bahagia.

Ini adalah impian temanku, dan dia berhasil meraihnya! Wow!

Tapi seperti warna baju yang saat itu dikenakan, ada perasaan melankolis yang biru. Perasaan ditinggal pergi, perasaan mungkin tidak akan mengenal orang yang berdiri di pelaminan itu. Perasaan yang sepi. Dan perasaan bahwa, “Selama ini tidak banyak dariku yang berubah tapi semuanya berubah dengan pasti”.

Teman-teman yang lainnya (yang jadi pagar ayu juga) adalah teman-teman dekat pas SMU kelas 2. Kita terkenal sebagai kawanan cewek bandel dan ribut. Sering kali kita begitu bandel dan recok, kita suka ngebully orang lain. Saat berkumpul, itulah kerjaan kita. Dan kita pun kadang merasa bingung bagaimana bisa saat kita bersama, kita bisa menjadi begitu bitchy.

Kurasa itu memang karena di dalam hati, kita tidak pernah benar-benar berubah.

Seperti parfum, base note-nya akan selalu menghangatkan note yang lain.

Kurasa, mungkin tidak sedikit orang yang membenci kita. Tapi kurasa tidak mengerti. Saat kesulitan, bitch yang terdekatlah yang menolong sesamanya.

Karena di dalam hati seorang bitch, there will always be the essence of a mother.

How bitchy, how rude, how obnoxious. That girl, that women, is a mother at heart. And there is no reason how it became so. It is how it is.

Jadi, mood hari ini adalah akuatik blue. Mengalir, berbuih, hampir tidak tertampung.

I too have always dreamnt of being a bride and mother you know. And I too am what I am. But I too feel scared of the posibility that what I am now will outshine my dream. *just like my ex said*

Sometimes I think I need to be better.

But I know in my heart, the bitch is still there.

I hope one day, the bitch and mother in me can hold hands together and realize that they need each other to be a great mother that can have good sex with her husband.

:p

-nyaw, feeling aquatic blue-