Category Archives: past tense

Life Oh Life

Life Oh Life

Your bitterness makes me awake

Your unexpected sweetness makes want for more.

-nyaw, bersyukur sudah kembali ke kehidupannya. Berdoa dengan keras tidak pernah lagi mendapat ide gila untuk mencoba mensimulasikannya-

Can I pretend that airplanes in the night sky are shooting stars? I could use a wish right now.

Did I do?

Did I do?

Habis ngopi di Kopo Progo, makan-makan bareng laila. Ngomongin banyak hal, dan karena orang tua kita selalu saja menanyakannya (karena seharusnya saat ini kita sudah merencanakan pernikahan), salah satu topik yang termasuk ke dalamnya adalah:

“Masa tidak ada yang ngecengin?” dan “Apakah memang tidak pernah ada?”

Karena kita punya waktu luang yang sangat-sangat banyak, jadinya kita menyebutkan nama satu per satu dan menyebutkan kemungkinan. Lalu astaga… sepertinya, sepertinya mungkin saja gwa punya cukup banyak :(

Argh tidak….

Gwa memikirkannya berulang-ulang hari ini, dan gwa merasa sangat bersalah…. Berasa dosa banget.

Timbul pertanyaan,

Apakah gwa nge-flash cleavage waktu itu? Apakah gwa sering nyibak rambut? Apakah gwa sering “giggling” dan diartiin lain? Apakah gwa memberi signal yang salah?

Oh astaga…

Masalahnya adalah pernah ada suatu waktu, gwa sedang sangat menikmati segalanya. Gwa sangat suka bereksperimen dengan baju, whole look gwa, aksesoris, perawatan kulit, shampoo,model rambut. Gwa hanya menikmati segalanya tanpa banyak berpikir. Orang-orang akan berusaha ngajak gwa ngobrol, tapi gwa saat itu skeptis dan berpikir, “Oh dia kesepian dia perlu teman ngobrol”. Gwa menjadi social butterfly tanpa banyak memikirkannya.

Dan sekarang gwa jadi memikirkannya. Saat-saat gwa menjadi social butterfly dan dampaknya. Buat gwa secara pribadi adalah gwa jadi tahu betapa menyenangkannya ngobrol. Gwa suka ngobrol! Gwa juga saat itu berpikir ketemu jodoh gwa MM lewat ngobrol. Gwa juga berpikir bahwa banyak orang yang menarik setelah diajak ngobrol.

Tapi ternyata,

Tidak semuanya sekedar obrolan. Mungkin mungkin mungkin… beberapa ingin menjadi lebih dari sekedar teman. Lalu mungkin mungkin mungkin… gwa ngasih signal salah saat ngobrol. Mungkin gwa melakukan flirt atau dianggap melakukan flirt. Karena gwa tidak pernah banyak memikirkan apapun…. :(

Guilt guilt guilt.

Sekarang gwa pakai jilbab dan terlihat tua, tidak menarik dan tidak berbentuk karenanya. Orangtua gwa membencinya. Tapi sekarang setelah gwa memikirkannya, gwa SANGAT SANGAT SANGAT menyukainya!

Karena gwa ingin orang lain benar-benar mendengarkan gwa.

Gwa tidak mau dikenang sebagai flirty.

Gwa mau meminimalisir kemungkinan orang lain sakit hati karena “salah tangkap”.

Mungkin ini semua sepertinya kenarsisan dan ke-GR-an raksasa. Selalu saja ada kemungkinan bahwa aku mengkhayalkannya. Tapi gwa gak mau ambil resiko.

Gwa harap jilbab ini bisa menutupi aurat gwa dan membantu gwa memperlihatkan diri gwa yang sebenarnya di luar sana.

-nyaw, renungan malam, berharap dirinya memang GR dan kelewat narsis-

Knowing

Knowing

Karena iseng-iseng, aku punya buku cara membaca wajah. Sebenarnya nggak iseng banget, tapi suatu tindakan sadar untuk mengira-ngira perilaku orang, jadi bisa lebih mawas dan tidak terlalu polos sendiri. Yang aku suka dari buku itu adalah di pembuka, penulisnya bilang kalau dia menggunakan ilmu baca wajah untuk dirinya sendiri. Karena sudah bisa membaca diri sendiri, setiap kali dia down atau gelisah dia cukup mengelus bagian wajahnya dan bilang “Ini adalah karena alis/kuping/dsb bawaanku…, sabar….”

Maklum kayak gitu, sangat membantu. Kalau ingin diterima seseorang, pastikan orang yang menerimamu 100% adalah diri sendiri. VVIP :D

Jadi ngomong-ngomong tentang mengetahui dan menerima diri sendiri. Belakangan ini, aku tidak melakukan hal itu dengan baik. Aku bahkan kehilangan semua bakat dalam sekejab mata. Ngegambar, nulis, formulasi, hampir-hampir tidak bisa melakukan itu semua (lihat saja tulisan-tulisanku yang belakangan tidak berstruktur). Tidak bisa melakukan semua itu, rasa-rasanya mencekik. Sama seperti tidak bisa bernapas, asma akut.

Bagiku, berkarya adalah napas.

Jadi karena aku punya masalah pernapasan, aku berlatih yoga. Sekarang in aku secara berkala berlatih untuk bernapas lancara, dan berusaha tidak menahan napas saat membaca email meresahkan di kantor.

Tapi terutama, aku saat ini sedang belajar untuk tidak merasa malu.

Ya kurasa aku merasa malu berat sampai merasa payah untuk melakukan apapun.

Sepertinya perasaan malu itu berasal pasca putus. Aku merasa malu bahwa saat aku frustasi dan depresi ingin menghabiskan seumur hidup sama orang yang aku cintai, orang itu ragu-ragu karena kelakuanku. Aku juga merasa malu saat aku ingin mengobrol dengan teman karibku (mantanku juga), dan mengejeknya itu membuatnya semakin yakin untuk meninggalkanku dan mencari orang lain.

Kurasa aku malu karena saat itu, orang yang kucintai tidak mengerti diriku dan melakukan backhand breakup untuk memastikan semuanya berakhir.

Kurasa aku harus berhenti untuk merasa malu. Sangat ingin dicintai kurasa gak salah. Mungkin orang lain melihatnya sebagai keputusasaan, tapi mereka cuman orang lain. Orang-orang yang benar-benar karib, tidak akan pernah membuatmu merasa malu, mereka malah akan tersanjung dan mencari tahu lebih banyak tentangmu tanpa memberi penilaian sepihak tanpa klarifikasi.

:p

Jadi saat ini, aku masih menangis tiap malam karena aku susah lupa hal-hal menyebalkan. Aku berusaha menulis lagi. Rencananya adalah aku ingin membuat cerita super panjang lagi sebagai proses penyembuhan, seperti saat aku menulis “Putri Standar” (itu adalah tulisan mengenai diriku yang paling mirip denganku, meskipun bentuknya dongeng). Aku belum pede sampai sekarang untuk menyentuh pensil, masih gemetaran, aku akan terus berusaha! Formulasi sih mau gak mau dilanjutkan, kurasa aku dapat formula shampoo yang menarik. Dan tidak lupa, saat ini aku beryoga dan berlatih pernapasan.

Saat aku merasa malu, aku akan ingat twit yang mungkin bagi orang lain sampah

#ZodiacFacts All Astrologers agree that #Scorpio is the sexiest of all zodiac signs, which may be why they are so desperate to find love

#ZodiacFacts #Scorpios are very emotional people who need love, crave, fight, and ask for it

Kupikir saat melihat twit ini, “Siapa sih yang ngga?” Tapi kemungkinan besar, karena dijadikan kalimat khusus, ada sekelompok orang di luar sana yang lebih mementingkan suatu aspek hidup daripada yang lain. Karena kebetulan aku termasuk sekelompok orang itu, aku tidak terlalu malu untuk bilang, “Aku mau dicintai.”

Sejujurnya aku belum sampai tahap pemilih. Katanya seseorang harus menjadi pemilih agar tidak disia-siakan. Masalahnya adalah mungkin aku agak gampangan/sederhana.

Semua penilaian ada di persepsi Anda.

-nyaw, malam-malam nulis blog abis gak bisa tidur karena nangis mulu, sekarang ngantuk-

Terimakasih Penonton!

Terimakasih Penonton!

Lagu ini dipersembahkan untuk gwa sendiri. Jangan lupa untuk menghormati acaranya, peristiwanya, kehebohannya, sorak sorai, dan ingatlah bahwa itu hanya satu di antara pertunjukan lainnya, dan asal tahu jangan lelah penonton karena akan ada pertunjukan-pertunjukan berikutnya. Take a bow!

Take a bow the night is over this masquerade is getting older. Lights are low, the curtains down, there’s no one here. Say your lines but do you feel them?Do you mean what you say when there’s no one around. Watching you watching me, one lonely star! (you don’t know where you are)

I’ve always been in love with you. I guess you’ve always known it’s true. You took my love for granted why oh why. The show is over say goodbye….

Wish you well, I can not stay. You deserve a reward for the role you play.

say goodbye…..

How was I to know the way the story goes?

.

.

.

lanjut! Karena….

“for you love was a game, for me love is losing game….”

-Kolaborasi Madonna (take a bow) dan Amy Whinehouse (love is a loosing game)-

Niat (mencari) Emas

Niat (mencari) Emas

Beberapa hal belakangan ini membuatku nostalgic. Jadi ingat pertama kali berkata pada diri sendiri,

“Manusia itu memang tidak bisa diharapkan sama sekali” – dz, umur 6 1/2tahun tahun-

Lalu bagaimana seorang gadis kecil bisa kehilangan harapan seperti itu? Nah ceritanya begini;

Saat umur segitu, seperti yang sudah ditulis dalam post sebelum-sebelumnya, aku tinggal di negri Paman Sam. Kebiasaan orang sana adalah membesarkan hati anak-anak dengan berkata, “Saya tahu bahwa kamu orang yang hebat dan punya banyak potensi.” Tapi terkadang, ucapannya tidak persis seperti itu, kadang-kadang oleh orang yang tidak sadar, ucapan itu menjadi, “Saya membantu kamu karena saya yakin kamu orang hebat penuh potensi.”

Lalu karena ucapan yang seperti itu, aku menjadi tidak percaya dengan kebaikan hati orang lain. Aku berpikirs karena diembeli-embeli dengan “hebat” dan “penuh potensi” dia menjadi orang yang baik. Bagaimana dengan berbuat baik karena tidak ada alasan hanya karena merasa perlu melakukannya? Kurasa itu sudah barang basi. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang apapun yang kita lakukan tidak ketemu juga kehebatannya? Apa semua kebaikan itu berubah menjadi penyesalan?

Pada orang yang mengucapkan kalimat itu, aku hanya melotot.

Sekarang setelah hampir 23 tahun, aku berpikir bahwa yang seperti itu memang sudah fitrah. Niat emas sebenarnya Niat (mencari) emas. Apalagi pada Pak Yo yang bilang, “Lintang cuman 1, tapi di Papua saya ketemu 10 Lintang” tiba-tiba aku menjadi sangat tidak respek.

Apa kalau anak itu bukan Lintang, kita akan memalingkan muka?

Apa kalau tidak punya harapan dia adalah Lintang, kita akan memalingkan muka?

Apa karena mungkin di luar sana ada Lintang, kita harus membangun daerah terpencil?

Apa karena sebuah standar, kita musti baik?

Sejak umur 6 1/2 tahun, ketakutan bahwa suatu hari akan dibuang masyarakat karena tidak “hebat” atau “potensif” menghantuiku. Pada waktu ke waktu, ketika aku merasa ketakutan, aku akan ingat ajaran tua, “Jangan harap pada makhluk, harap hanya pada Tuhan.”

Tuhan memang sangat mengerti kita semua.

Allahuakbar.

Tapi apakah ajaran niat (mencari) emas akan selalu diteruskan dari generasi ke generasi? Kalau seperti itu bisa-bisa spesies kita habis hanya karena sebuah ‘ide’.

Tidak pernah terpikir olehku, bahwa membunuh seseorang karena sebuah ‘ide’ itu halal.

Apalagi ide-nya bengkok! :p

Highest Chakra

Highest Chakra

Kemarin lusa iseng-iseng menonton siaran ulang “Aang, The Legend of The Last Avatar” (betul tak nih judulnya btw). Episodenya adalah tetang Aang yang membuka semua chakra-nya agar bisa membuka kekuatan avatarnya. Tapi Aang gagal karena tidak bisa membuka chakra tertingginya. Chakra-nya adalah sesuatu tentang energi kosmis dan cara membukanya adalah dengan melepaskan diri dari masa lalunya dan kehidupan duniawinya. Saat itu Aang hampir melakukannya tapi dia memilih untuk tidak membuka chakra itu.

lalu

Bak!

Episode itu seakan-akan menjadi sebuah pukulan bagiku. Aku juga, seperti Aang, akan gagal membuka chakra tertinggi itu. Padahal bo, kalau chakra-nya terbuka, akan menerima energi kosmis loh! Gila, rugi kan kalok gak bisa melepaskan diri.

Tapi begitulah, itu pekerjaan yang sulit banget.

Meskipun di “Buku SOP” kita udah jelas-jelas tertulis, “yang dimiliki saat ini bisa jadi semacam pengalih perhatian dari hal yang lebih penting”, aku tetap merasa sulit membuka ke tempat yang paling tinggi itu. Aku berkali-kali membaca ayat itu, tapi sepertinya mata tuh buta, otak goblok, dan hati tuh terkunci rapat.

Karena sedang seperti itu, aku merasa kesal dan tidak bisa tidur. Aku merasa lemah dan tidak tenang.

Lalu pada saat yang berdekatan, seorang kenalan menikah. Dia sangat cantik, dan sudah berhubungan lama dengan seseorang tapi berakhir menikah dengan orang lain. Logika aku mengetahui bahwa kejadian seperti itu biasa terjadi. Bahwa bisa saja kita menikah dengan orang lain tidak lama setelah berhubungan dengan orang lain. Tapi hati aku berteriak-teriak karena tidak bisa menerima hal seperti itu.

Dan itu salah kan.

Maksudnya, perempuan itu dicintai bukan mencintai, jadi harusnya bersikap lebih ringan hati.

Tapi mungkin aku punya terlalu banyak testosteron, jadi aku merasa kesulitan menerima kejadian sehari-hari seperti itu. Di dalam hati aku tidak punya kekuasaan menyakiti hati diri sendiri, orang lain lalu mengatakan dengan seenaknya, “Tuhan, nih urus kerjaan kotornya. Pokonya aku ibadah aja.” Aku belum bisa menerima melakukan hal seperti itu.

Mungkin kedengerannya terlalu negatif, mungkin tidak selebay itu.

Tapi itulah artinya kejadian kenalanku menikah itu.

Bagiku seperti itu.

Dan aku menjadi merasa crappy karena harusnya bisa membuka chakra paling tinggi dan lebih ringan hati dan bisa menerima kejadian apapun dengan hati terbuka.

Tapi tidak. Aku kaku seperti beton jembatan Suramadu.

Aku tidak pernah bisa benar-benar menerima kejadian itu sampai pada akhirnya aku tidak datang ke pernikahan itu karena tidak bisa mendoakan kebahagiaan kenalanku dengan tulus. Di dalam hati, aku merasa berbagai macam perasaan bercampur aduk. Perasaan-perasaan yang kotor. Marah, sedih, iri, frustasi, takut. Aku jadi bingung hingga aku memutuskan bahwa aku tidak bisa mendoakan kebahagiaan pasangan suami istri baru itu.

Di dalam hati, aku tidak tahu apa aku ingin mereka bahagia. Kenapa mereka harus bahagia kalau memulai dengan cara seperti itu?

Bukankah itu menyedihkan.

Tidak bisa berdoa dengan tulus.

Aku merasa perlu melepaskan diri dari keheranan-keheranan kecil dan mulai menerima hal-hal lebih besar.

Tapi di lain sisi aku merasa akan gagal melakukannya. Aku sangat jahat sampai tidak bisa mendoakan kebahagiaan orang lain. Bagaimana mungkin orang jahat kayak aku bisa membaca “Buku SOP” dengan baik?

“Ohhhh…. Jangan menyerah baby, jangan menyerah….”

-Bismillahirahmanirahim, dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-

Proses Menuju YAK!

Proses Menuju YAK!

Tiba-tiba merasa mual.

Tadi lagi iseng baca macam-macam di internet, ketemu tulisan teman tentang alasan pengharaman babi dalam agama Islam. Artikel bagus tapi sesuatu membuatku mual. Temanku mengutip sebuah ayat yang menyebutkan hal-hal yang diharamkan, dan di rentetan ayat itu disebutkan bahwa “mengundi” itu haram.

Astagfirullah. Aku suka tuh mengundi kalau dah bingung banget. Seperti saat kemarin aku mengambil keputusan untuk KP di RS, aku memakai undian koin. Matilah. Mual langsung.

Salah sendiri sih. Dah tau jadi bagian umat yang berpikir, kok malah suka melakukan hal-hal yang tidak melibatkan otak ~.~

Doa, Pikir -> pilih -> berani -> keputusan

Njiss, tolol kali awak ini ~.~ Gitu aja lupa.

Powerbaby

Powerbaby

“Si danz mah aneh!”

Itu adalah sebuah pendapat yang dilontarkan oleh kenalanku di SMU. Sekarang laki-laki yang memberikan pendapatnya tentangku, sejurusan dengan MM. Bukankah dunia cukup gila! Ironisnya, aku selalu mengira dirinya lah yang aneh. Talking of irony… :lol: . Bagaimanapun, terimakasih atas pendapatnya, good job bro!

Saking good job-nya, atas dasar pendapat itu, aku mendapat sebuah ceramah panjang tentang ‘cewek-cewek doyan nge-net yang saking bukan powerbaby-nya  jadi mencari eksistensi di dunia maya’ oleh seorang teman yang gemar beranalisa. Memang sebuah percakapan yang terjadi lebih dari 1 tahun lalu, tapi boi, tidak ada yang bisa melupakan dengan mudah seseorang mengatakan bahwa kamu adalah seorang non-powerbaby. Karena itu membuatmu bertanya, berapa banyak orang yang diperlukan untuk membuatmu merasa tidak ok. Dalam kasusku, aku akan bilang tidak sedikit. Membuatku bertanya lagi, hello… kenapa banyak ya? Apakah aku begitu sulit berubah atau sebenarnya aku powerbaby tanpa menyadari. Kalau aku adalah seorang powerbaby, powerbaby macam apa dan apa yang harus aku lakukan.

Terlalu banyak pertanyaan dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya, atas dasar kasih sayang. Aku sayang otakku, oleh karena itu dia tidak perlu banyak berpikir. Nyahahahaha… :lol:

Tapi sekarang aku tahu, aku jelas-jelas bukan powerbaby. Aku bukan Shana Fatina, sosok terkuat perempuan pertama KM-ITB. Aku bukan Asih Nurul Said Jenie, cumlaude-dobel kuliah-supel. Aku juga bukan Ratu Tisha, bersemangat dan tahu apa yang dia inginkan dan selalu mendapatkannya. Aku juga berharap kalian jangan pernah berpikir bahwa aku adalah laila hanya karena aku berteman akrab dengannya.

Aku akan menegaskan bahwa aku adalah danz. Lalu siapa dia? Dia adalah cewek yang suka menyahut di kuliahan tapi mendapat nilai yang tidak terlalu bagus di akhir semester. Dia suka makanan yang menggemukkan, dan mudah sekali tertidur, bahkan suka ngiler saking seneng tidurnya. Dia tidak pandai berorasi, jadi jangan terlalu memaksa dia untuk berbicara. Dia adalah orang yang akan berpikir “Wow akan hebat melukis itu, atau mencoba melakukan ini.” lalu tidak melakukannya karena bisa ‘dilakukan lain kali’. Dia suka menunda beberapa hal, tapi tidak sabaran soal keluarga, teman, dan orang-orang yang dikasihi. Dia juga suka bernyaw-nyaw, yaitu melakukan hal-hal biasa dan mendapatkan arti hebat darinya.

Tapi selalu ada konsekuensi dari bernyaw-nyaw. Kau harus membiarkan orang lain mengatakan APAPUN tentang dirimu. HARUS. Meskipun itu tidak benar, dan mungkin orang di hadapanmu bukan membuat penilaian tentang dirimu tapi tentang dirinya (percayalah, ada saja hal seperti ini), kau harus membiarkan orang itu berbicara. Kenapa tidak? Dia punya beberapa ide yang bagus, seperti temanku yang punya ide bahwa seorang powerbaby itu pasti eksis di dunia nyata.

Ironis,

karena semua perkataanmu akan berbalik padamu. Seperti pada kenalanku itu. Aku benar-benar berpikir dialah si aneh. Ternyata kita saling menuding keanehan masing-masing. Lalu aku berpikir, itu memang tidak penting ya. Tapi lalu ternyata menjadi penting karena berentet pada tudingan-tudingan lain.

Ini namanya butterfly effect bukan ya?

gadis

gadis

Udah lama gak ngisi blog. Jadi apa yang terjadi belakangan ini? Cukup lumayan. Sekarang sahabat gwa membenci jeroan gwa (baca: my bestfriend hates my guts), sekarang MM dan dz bukan pasangan, dan sekarang gwa menjadi insomaniac yang gak bisa tidur dengan lampu padam. Senang mengetahui hidup belum berubah. You gain some, you lose some.

Kadang-kadang, saat mengalami hal-hal buruk, lu kepengen tiba-tiba ada bom atom yang meledak di suatu tempat, yah gwa gak tau, mungkin di halaman rumah lu. Untuk melumatkan semuanya dan lu bisa bilang, “Ya, ya, ya this is demolition day.” Tapi tidak, saat mengalami hal-hal buruk, cuaca masih seperti biasanya. Burung piripip masih bernyanyi di luar. Buah jambu masih manis. Musik masih indah.

Lu jadi membencinya kan? Sesuatu harus berubah, tahu gak sih???

Tapi tidak donk. Semuanya masih begitu dan hidup berlalu.

Seharusnya gwa mengambil hikmahnya. Dari banyaknya keputusan-keputusan yang diambil. Tapi mungkin tidak hari ini. Tidak sampai lampu tidurnya bisa dipadamkan.

Dan gwa benci ibu gwa selalu benar.

Damn -_-

Jadi pengen jadi ibu.

dangdut is da music of my country

dangdut is da music of my country

Lagi-lagi aku ingin menegaskan bahwa aku bukan orang yang musikal, tapi entah dengan cara apa musik sering menangkapku.

Seperti misalnya sewaktu aku masih baru tiba di negri tropis yang indah ini. Hal pertama yang membuatku kaget adalah hentakan-hentakan semangat penari Papua dengan koteka mereka. Pada saat itu, aku merasa quote yang paling cocok untukku adalah “Kita benar-benar tidak berada di Kansas lagi, Totto….” :lol: Benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Setelah terkesan dengan semangat orang Papua, aku kemudian sangat menyukai musik dangdut. Aku benar-benar merasa terkesan dengan kata-kata pendek yang digunakannya (meskipun tidak mengerti, tapi aku merasa pasti cukup sederhana). Aku juga terkesan dengan suara cengkok si penyanyi dan seruling. Aku merasa bahwa paduannya manis dan sangat unik. Lagu kesukaanku pada saat itu adalah “5 menit lagi” dan “RT 03/ RW 05″ (mungkin saking sukanya, aku sekarang tinggal di RT 03/RW 05!). Aku sering menyanyikan kedua lagu itu bahkan sebelum mengerti artinya. Tapi itu tidak masalah karena bahkan aku tahu bahwa itu adalah lagu cinta! :lol:

Meskipun sekarang aku tidak suka dangdut, aku merasakan sebuah kewajiban untuk berterimakasih atas penemu musik dangdut. Melalui nada dan lirik yang sederhana, aku belajar berbahasa Indonesia dengan cara yang sangat sangat seru :D