Category Archives: mars&venus

Romansa

Romansa

Hari ini menyenangkan karena tadi pagi marathon 3 film romantis.

Film pertama yang ditonton adalah “Letters to Juliette”. Film itu romantis karena settingnya di Verona. Pemandangannya indah dan tentu saja Verona akan mengingatkan semua orang pada cinta terlarang antar Juliette Capulet dan Romeo Montague. Quote yang disukai dari film ini adalah: “If I was Romeo, I wouldn’t go whispering in the garden. I will swap Juliette of that balcony and be done with it.”

Film kedua adalah “One Fine Day”. Sepertinya adalah film di awal 90an, di mana tema yang sering diangkat adalah kehidupan romansa single parent. Pada tahun 90an, memang sedang ada gonjang-ganjing mengenai tingkat perceraian yang tiba-tiba booming (seingatku). Oleh karenanya banyak film 90an yang mengangkat tema tentang single parent yang berjuang menghidupi keluarga sendiri, sambil menuntun anak yang masih TK-kelas 1 SD dan harus berjuang menyeimbangkan waktu sambil berusaha menyelipkan waktu untuk dirinya sendiri. Di film “One Fine Day”, George Clooney dan Michelle Pfeiffer masih muda dan manis. Sayang ending filmnya agak gantung (mungkin karena memang ceritanya cuman tentang 24 jam itu saja, dooohhhh).

Film ketiga adalah “Pride and Prejudice”. Sepertinya, setiap perempuan yang membaca “Pride and Prejudice” yang dikarang oleh Jane Austen akan mengalami kesulitan untuk tidak jatuh cinta pada karakter lelaki utamanya, Mr.Darcy. Saking mempersonanya Mr. Darcy, dia tidak hanya saja ada dalam versi film “Pride and Prejudice”, dia bahkan menjadi prototype untuk tokoh lelaki di dalam buku/film “Bridget Jone’s Diary”. Bisa dibilang, kalau yang namanya perempuan itu menyukai laki-laki yang menyatakan cintanya dalam aksi ketimbang kata-kata.

Nah begitulah hal yang menyenangkan hari ini. Sedikit romansa adalah seperti sedikit merica untuk menambah rasa.

-nyaw, romantis!-

–> ditulis untuk G30HM

Menu Spesial

Menu Spesial

Menu hari ini adalah mengenai penyajian hati. Jadi seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Minggu lalu aku, Muthe, Ir, Finna, dan Dewi Sa ke festival MahaDharma yang diadakan di monumen perjuangan. Pas sampai di sana sih, belum ada apa-apa yang ramai. Katanya sih akan ramai sekali pas malam. Karena kita adalah kumpulan cewek-cewek Cinderella, alias kumpulan cewek yang suka merasa tidak enak hati pulang lewat dari jam 12 malam (meskipun kadang-kadang aku bandel pulang malam karena asik bermain dengan teman-teman).

Ternyata yang namanya anak muda Bandung itu melakukan macam-macam hal ya. Ada yang suka bercocok tanam, yaitu Bandung Berkebun. Dapat bibit gratis dari stand ini, tapi belum menanamnya karena lupa terus mo nanam. Ada juga komunitas origami lipat-lipat (yang dilipat adalah kertas, bukan tubuh). Ada juga skater-skater, yang tentu saja bikin ngeri karena membayangkan seandainya aku yang jatuh (mungkin akan gempa ya). Ada juga komunitas yang sukses bikin Finna lari terbirit-birit, yaitu komunitas pecinta reptil (padahal reptil itu keren).

Karena yang namanya ke festival itu pasti melakukan hal-hal iseng, Muthe ke stand ramal-ramal lagi. Tadinya sih ingin menemani saja, jadi ikut duduk di stand itu. Tak sengaja bertemu Rima dan kawannya pas nunggu, terus jadi ngobrol-ngobrol tentang “seorang lelaki” (iya cewek itu gemar sekali bergosip ya). Setelah menunggu beberapa lama lagi, akhirnya datang giliran Muthe untuk diramal tarot. Karena kabitha setelah Muthe diramal, jadi ikut-ikut diramal. Yang diramalkan adalah hal yang klasik: jodoh.

Kata yang ramalnya: akan mendapatkan jodoh segera setelah bisa memaafkan semua sakit hati di masa lalu dan membuka hati lebar-lebar. Hanya bisa ketawa getir dengan hasil ramalan itu. Pertama yang dipikir adalah, “YA IYALAH.” Tapi setelah berpikir-pikir kemudian jadi menyadari bahwa, “Oh… jadi diri sendiri yang menjadi penghalang untuk maju dan meraih kebahagiaan.”

Bisa dibilang musuh terburukku adalah diri sendiri.

Setelah mendapatkan nasihat untuk membuka hati dan memaafkan orang lain, aku pun memikirkannya. Tentang membuka hati. Memang sih, tidak mudah untuk menyajikan hati di atas piring sembari bilang, “Ini hati saya, silakan cicipi.” Bisa saja kan ada resiko setelah menyajikan hati, yang menyicip akan bilang, “Astaga, rasa macam apa ini, buang buang!” atau “Ah, nggak ah, saya kenyang dan sepertinya terlalu besar porsinya.” atau “Uhm, boleh juga, tapi yang itu juga boleh, coba yang itu juga boleh.” atau juga “Ok juga sih tapi harus pakai garam dikit ya, mungkin gula juga atau bagaimana kalau dimasak ulang?”

Meskipun banyak kemungkinan yang tidak enak seperti itu, mungkin… mungkin saja ada yang bilang, “Enak ya, pas.”

Bisa dibilang para penjaja hati di luar sana hanya bertahan demi satu kemungkinan kecil saja yaitu sebuah remark singkat, “Enak ya, pas.”

-nyaw, penjaja hati-

Berpegangan Tangan

Berpegangan Tangan

“I wanna hold your hand. I wanna hold your hand!”

-The Beatles-

The Beatles adalah salah satu band yang legendaris karena kesederhanaannya. Menurut banyak orang, cara The Beatles mengungkapkan perasaan jatuh cinta begitu jujurnya karena sebenarnya sebelum semua hal-hal yang begitu rumit seperti “keseriusan”, “pernyataan cinta”, “pertanggungjawaban” semuanya berawal dari hal sesederhana “ingin berpegangan tangan”. Kepolosan yang diungkapkan dari keinginan berpegangan tangan tidak semua orang mengingatnya, jadi sangat menakjubkan rasanya ada seseorang yang mengingat hal sesederhana itu.

Aku adalah orang yang termasuk ke dalam salah satu orang yang merasa takjub dengan kesederhanaan tersebut. Setelah membaca sebuah komik lama yang sudah berdebu mengenai pengalaman berpacaran untuk pertama kali, aku jadi ingat betapa sederhananya berhubungan dengan lawan jenis sebelum semua resiko diketahui dengan jelas. Semuanya sesederhana “rasa malu bertatapan langsung”, “ingin sering ketemu dia”, “mengumpulkan keberanian memulai obrolan”, dkk. Sekarang setelah mengetahui segala resiko semuanya menjadi ” apakah diacukup berani untuk mengatasi rasa malunya bertapapan langsung?”, “apakah dia ingin ketemu saya?”, “apakah dia berusaha mengenal saya?”, dkk hal yang berbentuk tanda tanya dalam beragam bentuk.

Di luar dugaan, mengetahui resiko malah bisa merusak hal yang tadinya baik. Suatu hal yang tadinya polos dan anak-anak begitu didewasakan menjadi lambat dan tidak asik.

Tapi tidak semua hal yang dewasa itu lambat dan tidak asik. Di luar sana ada loh orang dewasa yang masih bisa asik, tapi karena mengetahui resiko, dia menjalani hubungan percintaannya dengan otak (yang entah bagaimana cara melakukannya pada saat kau harus menggunakan hati…).

Karena berpikir-pikir tentang bahwa perubahan kepolosan menjadi kehati-hatian, aku pun berpikir bahwa sepertinya aku juga mengalami penuaan yang seperti itu. Aku pun saat melihat lawan jenis menjadi berhati-hati tanpa alasan yang jelas. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah aku mengharapkan jenis ketertarikan lawan jenis yang salah.

Apakah aku mengharapkan “ingin selalu bersama” ketika secara naluri aku malah mengeluarkan “apakah kita mempunyai keinginan bersama?”

Tenanglah, bukan hanya kebanyakan kita yang berubah. Bahkan Beatles pun berubah:

“… love is more than just more than holding hands

… I would love to love you and that she will cry when she learns we are two, if I fell in love with you”

-The Beatles-

-nyaw, in a vintage feeling way, remembering old feelings from old songs and new feelings also from old songs-

Damage Control

Damage Control

Karena dan because of, gwa gak berhenti mewek seabis putus, dan makin lama makin sebel sama orang yang nikah. Bapak dan Ibu gwa menyarankan untuk keluar dari tempat kerja yang sekarang dan melanjutkan sekolah. Harap-harap bisa ketemu jodoh sambil bergaul di kampus.

Yeah. Setelah putus sekarang mo jadi pengangguran?

Tidak terimakasih. Dia udah menghancurkan impian gwa untuk nikah sebelum umur 30, dan sekarang gwa harus meninggalkan pekerjaan gwa untuk memperbaiki semua “kerusakannya”.

Plis deh. NO.

Tapi… di satu sisi memang benar sih. Soalnya kan sekarang gwa kerja di pabrik yang sulit ke mana-mana. Pergaulan paling lewat dunia maya. Ah dah tau sendiri deh dunia maya kek gimana. GJ-Gak Jelas. Ada baiknya gwa ketemu orang nyata. Hanya untuk memastikan kalau memang si “jodoh” ini memang nyata dan bisa diusahakan.

Wow, pusing gak sih?

Kek dikasih pernyataan “saya cinta kamu tapi tidak terima kelakuan kamu” gak cukup memusingkan, yah sekarang gwa adalah calon perawan tua.

zzzz…. -_- *suara nyaw yang berusaha menciut dan menghilang*

Jadi yang akan gwa lakukan adalah…:

curhat dengan bos gwa tentang personal life gwa.

Tauk sih. Keknya stupid banget untuk curhat sama bos, tapi gimana lagi ya. Di satu sisi orang tua gwa punya alasan yang bagus, di satu sisi gwa pikir karier gwa menderita demi mengejar seorang laki-laki yang tidak diketahui apakah dia melakukan hal yang sama gilanya untuk menemukan gwa.

Halah… cape deh…. Kalau jadi gwa, apa yang akan lu lakuin?

-nyaw, will think about it-

Terimakasih Penonton!

Terimakasih Penonton!

Lagu ini dipersembahkan untuk gwa sendiri. Jangan lupa untuk menghormati acaranya, peristiwanya, kehebohannya, sorak sorai, dan ingatlah bahwa itu hanya satu di antara pertunjukan lainnya, dan asal tahu jangan lelah penonton karena akan ada pertunjukan-pertunjukan berikutnya. Take a bow!

Take a bow the night is over this masquerade is getting older. Lights are low, the curtains down, there’s no one here. Say your lines but do you feel them?Do you mean what you say when there’s no one around. Watching you watching me, one lonely star! (you don’t know where you are)

I’ve always been in love with you. I guess you’ve always known it’s true. You took my love for granted why oh why. The show is over say goodbye….

Wish you well, I can not stay. You deserve a reward for the role you play.

say goodbye…..

How was I to know the way the story goes?

.

.

.

lanjut! Karena….

“for you love was a game, for me love is losing game….”

-Kolaborasi Madonna (take a bow) dan Amy Whinehouse (love is a loosing game)-

My Red

My Red

Ladang jagung tidak mengingatkanku pada apapun. Itu menyedihkan. Sebaliknya, rambutmu berwarna emas. Jadi bayangkan betapa menyenangkannya jika kau telah menjinakkanku. Jagung yang keemasan akan mengingatkanku kepadamu. -rubah pada Pangeran kecil-

 Jadi sekali lagi, berpisah dengan MM. Tapi kali ini berbeda, rasanya benar-benar berpisah. Hal yang bisa saya tawarkan pada dia, gak lagi menarik. Meskipun gitu, jauh di dalam hati masih sayang sekali. Bukan karena hubungannya hampir 3 tahun, atau ada masa-masa yang indah bersama. Masih sayang karena memang benar-benar sayang dengan MM yang begitu. Tidak ada alasan.

Tapi memang perpisahan itu terjadi. Meskipun di dalam hati masih bisa digoyang seandainya diminta balik, MM gak akan melakukannya karena prinsipnya. Jadi saatnya bergerak (mudah-mudahan ke depan).

Kalau kata semua orang, harus segera memberesi barang-barang yang ngingetin sama mantan biar gak keinget-inget terus. Aku merasa ini sebuah masalah, karena barang-barang yang ngingetin banyak dan fundamental. Salah satunya adalah: “HP dan no khusus MM”, “Bul bul si mobil”, dan yang paling paling paling mengerikan adalah warna merah.

Benar. Warna merah. Karena MM artinya Membal Merah.

No HP bisa dikembaliin, HP bisa dijual, mobil bisa dinamain ulang, tapi warna merah? Aku gak bisa tiba-tiba jadi buta warna kan?

Oh damn it, dan sekarang aku merasa sakit tiap liat warna merah. Kita pernah punya waktu sangat sangat bahagia bersama (seperti yang ditulis di post-post sebelum ini), tapi tiap melihat warna merah cuman mengingatkan bahwa “saat itu kita punya waktu indah, di masa depan tidak ada”.

Mengerikan. Perasaan yang mengerikan.

Dan bayangkan. Warna merah ada di mana-mana.

Entahlah. Aku gak ngerti maksud Allah SWT, Maha Kuasa Maha Pembolak-balik hati. Mungkin untuk menundukkanku. Untuk mengingatkanku setiap hari, melalui warna merah, bahwa aku sudah pernah dijinakkan seperti si rubah dalam cerita “Pangeran Kecil”.

Now my red is not the same and I feel like crying

-nyaw, lost-

Cosmetic Hate & Love

Cosmetic Hate & Love

Dari dulu aku suka sekali kosmetik. Aku bukan heavy-user, tapi jelas-jelas sekali dari kecil aku suka sekali kosmetik. Kalau main ke rumahku, dan masuk ke dalam kamar mandi, kalian akan menemukan lebih dari 10 macam sabun dan shampoo, yang secara tidak sadar  aku coba 1 per 1 dari bulan ke bulan untuk menemukan produk yang buatku paling “alfa”. Setiap menemani ibu berbelanja, aku pasti berlama-lama di bagian bodycare dan secara serius mencocokkan klaim dengan ingredients (wakakakak, sampai sekarang masih!). Waktu SMU, aku juga secara telaten mengumpulkan katalog Oriflame yang diberikan temanku (dan juga MEMBACANYA :lol: ). Dan sekarang secara tidak sengaja aku bekerja di perusahaan kosmetik. Sangat membenci ketidakpastian deadline dan launching, tapi cukup senang mencoba-coba produk baru yang kebanyakan orang pikir “sebenarnya tidak berguna”.

Bukan sekali dua kali, aku mendengar keluhan laki-laki tentang kebiasaan perempuan dan betapa tidak bergunanya hal tersebut. Bahwa berdandan menandakan perempuan itu membangun kepercayaan dirinya di atas hal tidak abadi bernama “kecantikan”.

Yang mau aku bilang: “Please deh.”

Sebenarnya apa sih yang tidak disukai dari cewek yang berdandan? Suka kulit putih halus, suka rambut lembut, suka mata yang besar, suka yang harum, suka yang mulus, suka yang bibirnya merona, suka yang tidak pernah menua. Hello… emangnya berapa dari berapa perempuan yang terlahir dengan keadaan seperti ini dan bisa mempertahankannya seumur hidupnya tanpa perawatan? Ayo donk cowok, bangkitlah dari fantasi bodoh kalian, dan terimalah bahwa cewek itu tidak sempurna, tapi dia berusaha. Dia berusaha dengan keras. Dan please deh…, produk kosmetik yang kalian bilang tidak berguna itu, secara susah payah diformulasi dengan cucuran air mata, keringat formulator yang secara serius memikirkan. “Apakah ini akan benar-benar mempercantik dan tidak akan dijadikan mainan orang marketing saja.”

Saat ini aku dilema. Apakah cowok Indonesia memang tidak suka cewek yang berusaha atau cowok-cowok itu merasa tertipu. Bahwa ternyata bidadari yang diinginkan itu tidak nyata? Bahwa dia pada akhirnya hatinya akan digulir menuju pesona manusia biasa? (wow, kalimat yang terakhir berima, keren… :p )

Well dude, I’ve looked it up in the “Manual Book”, dan tau gak? Baru dapat bidadarinya setelah kiamat.

Itu juga kalau masuk surga.

SUCK UP DUDE!

-nyaw, bukan feminist, karena feminist tidak memakai lipstick dan eyeshadow-

Suami, Apa yang Terlihat

Suami, Apa yang Terlihat

Setelah uring-uringan karena hampir di-sekamar mess kan dengan orang yang sudah bersuami, MM tampaknya agak “Heh?”. Soalnya aku bilang gak mau sekamar dengan orang bersuami karena suami-suami itu aneh, MM agak “hih” karena dia bilang itu secara gak langsung bilang dia juga aneh.

Meskipun tidak enak hati dengan MM, saya tetap berpikir suami-suami itu aneh.

Tapi sejujurnya bukan suami-suami saja yang aneh. Istri-istri juga aneh.

Aku pernah dicibir istri seorang senior karena menyapa si senior itu. Aku heran kenapa suami-istri muda tidak bisa berhenti membicarakan kehidupan berumah tangga seakan-akan itu adalah topik yang umum, padahal sejujurnya sangat tidak sopan mengangkat topik yang tidak dimengerti orang lain. Aku pernah mendengar Bapakku menuding teman ibuku lesbian karena berteman dekat dengan ibuku.

Aku yakin semua laki-laki yang telah menjadi suami itu tidak sadar telah menjadi makhluk yang aneh. Dan aku pun tidak menyalahkan. Dan aku bisa memaklumi. Tapi sejujurnya aku tidak bisa menerima kekhilafan orang lain. Aku tidak bisa menerima pandangan curiga lain. Tudingan yang tidak berdasar. Tekanan ego manusia yang gelap mata.

Aku bahkan tidak bisa menerimanya setelah bermaaf-maafan di hari Ied.

Aku bukan Tuhan, dan hatiku sangat sempit.

Aku ingin hatiku luas. Tentu saja. Tapi kenyataannya dia sempit.

Lalu apakah aku ingin menikah meskipun laki-laki yang dinikahi berpotensi menjadi orang aneh? Ya, tentu saja. Alasannya adalah karena meskipun sampai saat ini aku tidak memiliki pandangan positif terhadap suami-suami orang lain, aku tidak bisa melepaskan harapan bahwa suami aku adalah orang yang luar biasa.

Dan dari orang luar biasa itu aku akan punya seorang anak yang luar biasa

atau dua anak yang luar biasa

atau tiga anak yang luar biasa

atau… :lol:

Realitas memang menyakitkan tapi beberapa orang sulit melepaskan harapan dan mimpi.

maybe Godspeed kali ya.

-nyaw ^^ -

Si Nyaw dan Jilbabnya

Si Nyaw dan Jilbabnya

Sekarang aku pakai jilbab, tapi aku kok gak merasa berbeda yak? Aku masih menyetir dengan serampangan dan masih shalat mepet waktu.

Apa bedanya aku yang berjilbab dan aku yang tidak???

Kurasa tidak ada.

Karena berada di dalam lingkungan di mana mayoritas cewek-cewek berjilbab, di sela sana sini suka ada komentar dari cewek-cewek itu tentang pakaian seksi. Seperti, “Ikh, kebuka banget” atau “Ikh murahan” atau semacamnya. Kadang bisa juga sampai ngatain “Bitch”.

Karena mereka berjilbab, aku malah makin tidak merasa perbedaan jilbab dan nonjilbab. Toh cewek yang pakai jilbab masih menghakimi orang lain hanya lewat penglihatannya. Tahvava kan.

Jadi berpikir,

kalau aku seorang laki-laki, dan ingin memilih perempuan baik-baik sebagai istri, itu pasti pekerjaan yang sangat-sangat sulit. Karena ternyata cewek yang berjilbab di luar tidak semua berjilbab di dalam.

Humm, apakah karena aku tidak bertambah baik setelah pakai jilbab, itu menjadikan aku seorang penipu?

-nyaw, merasa menipu orang lain lewat penampilannya. Sedih-