Ada beberapa hal yang dapat dibiarkan begitu saja dan ada hal yang memerlukan penjelasan. Salah satu hal yang memerlukan penjelasan adalah mengenai “Pernyataan kepada Ketua KM ITB”.
Jujur, tidak mengerti kenapa pemberian celana dalam dan pembalut kepada Presiden KM ITB dianggap sebagai pernyataan bahwa mahasiswa ITB itu banci. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan bahwa menjadi perempuan/ingin menjadi perempuan itu hina. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan perempuan itu pengecut dan tidak punya nyali. Padahal yang namanya perempuan itu, yang mereka simbolkan sebagai lambang “pengecut”, tanpa berpikir, tanpa banyak timbang, membawa seorang nyawa dalam rahimnya dan mempertaruhkan nyawa sendiri saat melahirkannya.
Apa mempertaruhkan nyawa dianggap masih kurang berani?
Kalau Sdr Sondang yang melakukan aksi bakar diri dianggap sebagai pahlawan, kenapa tidak menganggap perempuan-perempuan yang mempertaruhkan nyawanya tersebut sebagai pahlawan juga?
Apa yang begitu berbeda?
Sebenarnya apa penjelasan di balik gesture “celana dalam dan pembalut”?
Mungkin saya yang salah tangkap. Mungkin sebagai perempuan saya terlalu sensitif. Tapi apakah ini adalah gesture yang akan dibenarkan untuk dipakai seterusnya kepada generasi selanjutnya?
Saya rasa itu adalah hal yang tidak pantas.
Cukup banyak perbuatan yang dapat dijadikan sindiran kepada orang lain, tanpa harus merendahkan orang lain.
-nyaw-
PS:
Emang apa salahnya dengan banci?
–> Tidak habis pikir dengan merendahkan orang lain secara konstan dan kontinyu.

