Category Archives: estrogen

Perlu Penjelasan

Perlu Penjelasan

Ada beberapa hal yang dapat dibiarkan begitu saja dan ada hal yang memerlukan penjelasan. Salah satu hal yang memerlukan penjelasan adalah mengenai “Pernyataan kepada Ketua KM ITB”.

Jujur, tidak mengerti kenapa pemberian celana dalam dan pembalut kepada Presiden KM ITB dianggap sebagai pernyataan bahwa mahasiswa ITB itu banci. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan bahwa menjadi perempuan/ingin menjadi perempuan itu hina. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan perempuan itu pengecut dan tidak punya nyali. Padahal yang namanya perempuan itu, yang mereka simbolkan sebagai lambang “pengecut”, tanpa berpikir, tanpa banyak timbang, membawa seorang nyawa dalam rahimnya dan mempertaruhkan nyawa sendiri saat melahirkannya.

Apa mempertaruhkan nyawa dianggap masih kurang berani?

Kalau Sdr Sondang yang melakukan aksi bakar diri dianggap sebagai pahlawan, kenapa tidak menganggap perempuan-perempuan yang mempertaruhkan nyawanya tersebut sebagai pahlawan juga?

Apa yang begitu berbeda?

Sebenarnya apa penjelasan di balik gesture “celana dalam dan pembalut”?

Mungkin saya yang salah tangkap. Mungkin sebagai perempuan saya terlalu sensitif. Tapi apakah ini adalah gesture yang akan dibenarkan untuk dipakai seterusnya kepada generasi selanjutnya?

Saya rasa itu adalah hal yang tidak pantas.

Cukup banyak perbuatan yang dapat dijadikan sindiran kepada orang lain, tanpa harus merendahkan orang lain.

-nyaw-

PS:

Emang apa salahnya dengan banci?

–> Tidak habis pikir dengan merendahkan orang lain secara konstan dan kontinyu.

Sulap

Sulap

Entah kenapa, setelah mengompori percintaan orang lain, bernyanyi karaoke 3 jam, melototin warna coklat muda liquid foundation, berusaha membuat shirley bantet wangi (sekarang malah berbau seperti keju -_-), blogwalking dan ketakutan dengan pemikiran-pemikiran rumit anak lelaki, tiba-tiba ada lagu bodoh di dalam otak;

“Du du du du du du…

Da da da da da da…

Kamulah pesulap, kamulah pesulap

Menghilangkan rasa kesal dan memunculkan rasa kangen

Oh oh oh… sulllaaaapppp cinttttaaaa…..!

*goyangkan pantat*

Sulap sulap sulap, kamulah pesulap cintaaaaaa!

Yeah!”

–> Ya saya tahu, saya ini sangat konyol :p

-nyaw, sedang konyol-

PS: Serius deh, gimana sih caranya ngilangin bau apeuk?

Menu Spesial

Menu Spesial

Menu hari ini adalah mengenai penyajian hati. Jadi seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Minggu lalu aku, Muthe, Ir, Finna, dan Dewi Sa ke festival MahaDharma yang diadakan di monumen perjuangan. Pas sampai di sana sih, belum ada apa-apa yang ramai. Katanya sih akan ramai sekali pas malam. Karena kita adalah kumpulan cewek-cewek Cinderella, alias kumpulan cewek yang suka merasa tidak enak hati pulang lewat dari jam 12 malam (meskipun kadang-kadang aku bandel pulang malam karena asik bermain dengan teman-teman).

Ternyata yang namanya anak muda Bandung itu melakukan macam-macam hal ya. Ada yang suka bercocok tanam, yaitu Bandung Berkebun. Dapat bibit gratis dari stand ini, tapi belum menanamnya karena lupa terus mo nanam. Ada juga komunitas origami lipat-lipat (yang dilipat adalah kertas, bukan tubuh). Ada juga skater-skater, yang tentu saja bikin ngeri karena membayangkan seandainya aku yang jatuh (mungkin akan gempa ya). Ada juga komunitas yang sukses bikin Finna lari terbirit-birit, yaitu komunitas pecinta reptil (padahal reptil itu keren).

Karena yang namanya ke festival itu pasti melakukan hal-hal iseng, Muthe ke stand ramal-ramal lagi. Tadinya sih ingin menemani saja, jadi ikut duduk di stand itu. Tak sengaja bertemu Rima dan kawannya pas nunggu, terus jadi ngobrol-ngobrol tentang “seorang lelaki” (iya cewek itu gemar sekali bergosip ya). Setelah menunggu beberapa lama lagi, akhirnya datang giliran Muthe untuk diramal tarot. Karena kabitha setelah Muthe diramal, jadi ikut-ikut diramal. Yang diramalkan adalah hal yang klasik: jodoh.

Kata yang ramalnya: akan mendapatkan jodoh segera setelah bisa memaafkan semua sakit hati di masa lalu dan membuka hati lebar-lebar. Hanya bisa ketawa getir dengan hasil ramalan itu. Pertama yang dipikir adalah, “YA IYALAH.” Tapi setelah berpikir-pikir kemudian jadi menyadari bahwa, “Oh… jadi diri sendiri yang menjadi penghalang untuk maju dan meraih kebahagiaan.”

Bisa dibilang musuh terburukku adalah diri sendiri.

Setelah mendapatkan nasihat untuk membuka hati dan memaafkan orang lain, aku pun memikirkannya. Tentang membuka hati. Memang sih, tidak mudah untuk menyajikan hati di atas piring sembari bilang, “Ini hati saya, silakan cicipi.” Bisa saja kan ada resiko setelah menyajikan hati, yang menyicip akan bilang, “Astaga, rasa macam apa ini, buang buang!” atau “Ah, nggak ah, saya kenyang dan sepertinya terlalu besar porsinya.” atau “Uhm, boleh juga, tapi yang itu juga boleh, coba yang itu juga boleh.” atau juga “Ok juga sih tapi harus pakai garam dikit ya, mungkin gula juga atau bagaimana kalau dimasak ulang?”

Meskipun banyak kemungkinan yang tidak enak seperti itu, mungkin… mungkin saja ada yang bilang, “Enak ya, pas.”

Bisa dibilang para penjaja hati di luar sana hanya bertahan demi satu kemungkinan kecil saja yaitu sebuah remark singkat, “Enak ya, pas.”

-nyaw, penjaja hati-

Feminitas

Feminitas

Bandung adalah kotanya perempuan.

Setidaknya bisa disebut tempatku bekerja, lagi-lagi adalah tempat yang penuh dengan perempuan. Berbeda dengan tempat sebelumnya yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan single, tempat yang sekarang penuh dengan ibu-ibu muda dan tampak begitu bahagia. Kalau sedang berkumpul makan siang bersama, yang dibicarakan adalah tentang anak-anak yang lucu.

Anak laki-laki yang dari kecil saja sudah melirik-lirik cewek yang “cantik”.

Anak perempuan yang rajin dan penurut dan membuat bangga dengan memenangkan loba gambar.

Ada juga cerita anak-anak yang dirasakan tidak punya tontonan layak di tivi, akhirnya harus liat 7iccon, SM*SH, dan cherrybelle.

Kadang-kadang muncul pembicaraan tentang pengalaman melahirkan. Rasa sakit seperti apa yang dialami, kebingungan yang dialami (seperti, kalau mau pup dan pipis bagaimana saat mau mengeluarkan si dedek?) dan cara duduk dan pakaian yang harus dikenakan setelah melahirkan. Ada juga tips dan trik agak perut bisa kembali ke posisi semula setelah melahirkan (katanya adalah dengan campuran ragi dan jeruk nipis, tapi Heidi Klum gak pakai yang begitu dan dia baik-baik saja :p).

Lalu, saat semuanya sedang asik bekerja, tiba-tiba para ibu muda akan bercerita tentang pengalaman bertemu suaminya saat ini. Cerita ini biasanya diikuti nasihat-nasihat tentang memilih pasangan juga doa-doa agar diberi kesabaran. Aku rasa kalau yang namanya family woman saat sedang bekerja banyak merasa kangen dengan suami dan anak-anaknya.

Yang namanya bel pulang adalah suara yang paling ditunggu-tunggu pada hari itu karena ingin segera memeluk anaknya dan cerita-cerita dengan si Mas/Aa/ Bapak dedek.

Ingin menjadi wanita yang seperti itu.

-nyaw, feminitasisasi-

Berpegangan Tangan

Berpegangan Tangan

“I wanna hold your hand. I wanna hold your hand!”

-The Beatles-

The Beatles adalah salah satu band yang legendaris karena kesederhanaannya. Menurut banyak orang, cara The Beatles mengungkapkan perasaan jatuh cinta begitu jujurnya karena sebenarnya sebelum semua hal-hal yang begitu rumit seperti “keseriusan”, “pernyataan cinta”, “pertanggungjawaban” semuanya berawal dari hal sesederhana “ingin berpegangan tangan”. Kepolosan yang diungkapkan dari keinginan berpegangan tangan tidak semua orang mengingatnya, jadi sangat menakjubkan rasanya ada seseorang yang mengingat hal sesederhana itu.

Aku adalah orang yang termasuk ke dalam salah satu orang yang merasa takjub dengan kesederhanaan tersebut. Setelah membaca sebuah komik lama yang sudah berdebu mengenai pengalaman berpacaran untuk pertama kali, aku jadi ingat betapa sederhananya berhubungan dengan lawan jenis sebelum semua resiko diketahui dengan jelas. Semuanya sesederhana “rasa malu bertatapan langsung”, “ingin sering ketemu dia”, “mengumpulkan keberanian memulai obrolan”, dkk. Sekarang setelah mengetahui segala resiko semuanya menjadi ” apakah diacukup berani untuk mengatasi rasa malunya bertapapan langsung?”, “apakah dia ingin ketemu saya?”, “apakah dia berusaha mengenal saya?”, dkk hal yang berbentuk tanda tanya dalam beragam bentuk.

Di luar dugaan, mengetahui resiko malah bisa merusak hal yang tadinya baik. Suatu hal yang tadinya polos dan anak-anak begitu didewasakan menjadi lambat dan tidak asik.

Tapi tidak semua hal yang dewasa itu lambat dan tidak asik. Di luar sana ada loh orang dewasa yang masih bisa asik, tapi karena mengetahui resiko, dia menjalani hubungan percintaannya dengan otak (yang entah bagaimana cara melakukannya pada saat kau harus menggunakan hati…).

Karena berpikir-pikir tentang bahwa perubahan kepolosan menjadi kehati-hatian, aku pun berpikir bahwa sepertinya aku juga mengalami penuaan yang seperti itu. Aku pun saat melihat lawan jenis menjadi berhati-hati tanpa alasan yang jelas. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah aku mengharapkan jenis ketertarikan lawan jenis yang salah.

Apakah aku mengharapkan “ingin selalu bersama” ketika secara naluri aku malah mengeluarkan “apakah kita mempunyai keinginan bersama?”

Tenanglah, bukan hanya kebanyakan kita yang berubah. Bahkan Beatles pun berubah:

“… love is more than just more than holding hands

… I would love to love you and that she will cry when she learns we are two, if I fell in love with you”

-The Beatles-

-nyaw, in a vintage feeling way, remembering old feelings from old songs and new feelings also from old songs-

Distinctive

Distinctive

Pada post sebelumnya, aku marah-marah tentang sebuah postpone. Pada kenyataannya, meskipun di post itu aku terdengar marah, pas hari H aku tidak bisa melakukan apapun selain melupakan hal postponing itu dan live with it. Semuanya adalah karena orang yang melakukan postpone punya bau “orang penting”.

Kalau ketemu orang dengan bau “orang penting”, kamu gak bisa melakukan apapun selain menerima kehadirannya di ruangan itu. Kecuali baumu sama kuatnya, tentu saja mungkin terjadi cekcok atau malah cocok sekali karena bau yang saling menguatkan (yang hampir tidak pernah terjadi di dunia ini btw).

Aku mungkin terengar gila dan membuatnya terdengar si orang itu emang bau beneran. Tapi buatku seperti itu. Karena dari dulu aku adalah perempuan penuh instinct (bahkan sepertinya aku membuat formula berdasarkan instinct), rasa-rasanya aku bisa mengendus kepribadian orang lain. Mungkin itu karena aku hobi sekali makan. Katanya orang yang hobi makan itu hobi mengendus juga.

Meskipun bisa mengendus, sayangnya aku anosmic dengan diri sendiri.

Jadi bertanya-tanya. Bauku seperti apa ya?

-nyaw, endus endus endus-

Almost

Almost

Sudah mandi, sudah wangi and feeling very pretty.

Tapi kenapa?

Alasannya adalah pada hari kamis yang lalu, ibuku menelpon dan menyuruh pulang di akhir minggu. Katanya ada yang mau “kenalan”. Karena sedang sangat single, lumayan juga ada yang mau “kenalan”. Kata ibu, minta “kenalan”nya adalah hari ini (sabtu) siang. Aku konfirm Ok.

Tapi saat aku sampai di rumah kemarin malam, ibu  ngasih kabar kalau janji “kenalan”nya dibatalkan dan diubah ke hari minggu jam 10.00.

I am thinking now: “And that is why you will only be someone I know. That is if you ever have the balls to meet up. If there is another no show, than you might be just another stranger.”

Amanat:

Pada suatu event “kenalan”, you do not postpone. Saat cari kerja dan ada janji wawancara, saat si calon karyawan postpone janji wawancaranya, sudah hampir 100% dia tidak akan dapat pekerjaan itu.

Lalu kenapa orang berpikir hal itu akan berbeda untuk jodoh? Will God take your postpone appointment to greatness? Think not.

Tapi Tuhan Maha Pemaaf, jadi mungkin saja it’s Ok. Since I’m not God, aku berpikir untuk tidak memaafkan first impression yang seperti itu. Bukannya aku sombong dan tidak punya waktu, tapi di dalam perut aku tahu bahwa orang yang akan menundamu sekali, akan terus menundamu sampai beberapa kali. Mungkin dia hebat, sibuk, cumlaude, dan penyayang dengan keluarga tapi ….

Dan “tapi” itu sering kali berarti TIDAK.

-nyaw. Geleng-geleng kepala. He was almost this close to get a nice girl, than he postpone. Semoga aku sendiri tidak pernah menunda kesempatan-kesempatan hebat lainnya dalam hidup-

Mistake

Mistake

Ibu: kesalahan Danilah dulu tuh sama si MM

*dz pokerface mode on*

Looks like my mother have bigger regrets than myself.

Maybe she is ashame of giving birth to a girl who make stupid mistakes like picking on men that don’t love her back and can’t appeal sexually resulting to be unmarried.

Let that be her problem.

-I am privileged to do any mistake I want. I know consequences exists.-

2 AM

2 AM

Pada saat-saat yang apes, terpaksa menyetir dari Bandung ke Tangerang pada jam 2 pagi dini hari. Kalau lagi apes banget, jam 2 juga rame loh. Tapi kalau lagi gak terlalu apes, jam 2 sepi, seperti hari ini.

Jam 2 pagi, Dago tampak misterius. Dengan lampu jalanan yang hijau jadul dengan cahaya yang berwarna kuning, membuat jalan jadi bergantian terang gelap terang gelap tanpa kompromi. Agak mengingatkan pada film-film yang disetting pada jaman laki-laki masih memakai suspender untuk menahan celana dan perempuan memakai korset berkerangka untuk menciptakan efek “pantat”.

Lalu di saat-saat sepi seperti itu, aku akan membelok dan melewati Ganesha yang dicintai. Jalanan remang-remang dan menimbulkan misteri. Ada juga rasa memiliki dan sakit karena meninggalkan kandang gajah. Setiap melewati Ganesha, selalu berdoa dalam hati agar Allah SWT berbaik hati menjodohkanku dengan engineer dari ITB. Karena kurasa itulah satu-satunya cara agar tidak bilang selamat tinggal pada Ganesha tiap minggunya atau setidaknya suatu hari aku akan kembali dan mengajak anak-anakku bermain di tengah alunan not-not Indonesia Raya yang tenggelam di Plaza Widya. Juga kurasa, kalau suamiku engineer, dia akan mengerti apa rasanya jadi anak gajah yang selalu dikatai sombong dan punya kemampuan tidak sebesar arogansinya.

Tapi, tidak peduli perasaan seperti apa, mobil tetap melaju di tengah keheningan malam dengan gelap terang kontras berganti.

Cuman karena aku telah berjanji untuk melakukan hal yang luar biasa. Dan hal luar biasa itu tidak bisa ditampung di sebuah kandang gajah.

-nyaw, missing her childhood campus-

Meskipun tidak ingat salam Ganesha, aku sudah ingat bagaimana Ganesha dulu. Dari Ganesha yang full kehijauan dengan bangunan yang redup kuning dan daun di mana-mana menjadi retro dan sleek menyambut era digital dan komputerisasi.

Ya Allah, please make him an engineer unless it has no good on my sake than I will miss Ganesha forever :(

Did I do?

Did I do?

Habis ngopi di Kopo Progo, makan-makan bareng laila. Ngomongin banyak hal, dan karena orang tua kita selalu saja menanyakannya (karena seharusnya saat ini kita sudah merencanakan pernikahan), salah satu topik yang termasuk ke dalamnya adalah:

“Masa tidak ada yang ngecengin?” dan “Apakah memang tidak pernah ada?”

Karena kita punya waktu luang yang sangat-sangat banyak, jadinya kita menyebutkan nama satu per satu dan menyebutkan kemungkinan. Lalu astaga… sepertinya, sepertinya mungkin saja gwa punya cukup banyak :(

Argh tidak….

Gwa memikirkannya berulang-ulang hari ini, dan gwa merasa sangat bersalah…. Berasa dosa banget.

Timbul pertanyaan,

Apakah gwa nge-flash cleavage waktu itu? Apakah gwa sering nyibak rambut? Apakah gwa sering “giggling” dan diartiin lain? Apakah gwa memberi signal yang salah?

Oh astaga…

Masalahnya adalah pernah ada suatu waktu, gwa sedang sangat menikmati segalanya. Gwa sangat suka bereksperimen dengan baju, whole look gwa, aksesoris, perawatan kulit, shampoo,model rambut. Gwa hanya menikmati segalanya tanpa banyak berpikir. Orang-orang akan berusaha ngajak gwa ngobrol, tapi gwa saat itu skeptis dan berpikir, “Oh dia kesepian dia perlu teman ngobrol”. Gwa menjadi social butterfly tanpa banyak memikirkannya.

Dan sekarang gwa jadi memikirkannya. Saat-saat gwa menjadi social butterfly dan dampaknya. Buat gwa secara pribadi adalah gwa jadi tahu betapa menyenangkannya ngobrol. Gwa suka ngobrol! Gwa juga saat itu berpikir ketemu jodoh gwa MM lewat ngobrol. Gwa juga berpikir bahwa banyak orang yang menarik setelah diajak ngobrol.

Tapi ternyata,

Tidak semuanya sekedar obrolan. Mungkin mungkin mungkin… beberapa ingin menjadi lebih dari sekedar teman. Lalu mungkin mungkin mungkin… gwa ngasih signal salah saat ngobrol. Mungkin gwa melakukan flirt atau dianggap melakukan flirt. Karena gwa tidak pernah banyak memikirkan apapun…. :(

Guilt guilt guilt.

Sekarang gwa pakai jilbab dan terlihat tua, tidak menarik dan tidak berbentuk karenanya. Orangtua gwa membencinya. Tapi sekarang setelah gwa memikirkannya, gwa SANGAT SANGAT SANGAT menyukainya!

Karena gwa ingin orang lain benar-benar mendengarkan gwa.

Gwa tidak mau dikenang sebagai flirty.

Gwa mau meminimalisir kemungkinan orang lain sakit hati karena “salah tangkap”.

Mungkin ini semua sepertinya kenarsisan dan ke-GR-an raksasa. Selalu saja ada kemungkinan bahwa aku mengkhayalkannya. Tapi gwa gak mau ambil resiko.

Gwa harap jilbab ini bisa menutupi aurat gwa dan membantu gwa memperlihatkan diri gwa yang sebenarnya di luar sana.

-nyaw, renungan malam, berharap dirinya memang GR dan kelewat narsis-