Terbangun sebelum adzan subuh. Tadinya berniat cuman meringkuk di dalam selimut setelah shalat, tapi tiba-tiba ingin membaca salah satu buku berharga Rp.10.000,00 yang dibeli dalam sebuah obarl buku besar-besaran. Sambil menggosok-gosok lengan yang kedinginan, mengambil buku yang berjudul “Stargirl”.
Untuk sebuah buku berharga Rp. 10.000,00, buku itu bagus sekali!
Selain itu sangat mencengangkan, ternyata si tokoh pendamping utama Stargirl punya ide yang sama denganku!
Ya betul, kami berdua punya ide untuk membuat biografi setiap orang. Lucu sekali bisa punya ide yang sama. Meskipun begitu, kita punya tujuan yang berbeda. Kalau di situ diceritakan kalau Stargirl ingin membuat biografi itu untuk menyenangkan si orang yang dibikin biografinya (semacam untuk mengatakan, “ada yang memperhatikanmu”), aku sih berpikir bahwa aku akan menunjukkannya pada si “baby”. Dengan begitu diharapkan dia bisa menerima perbedaan setiap orang dan belajar sebanyak mungkin dari pengalaman hidup orang lain. Aku juga menginginkan si “baby” menulis biografi orang-orang yang dia kenal untuk belajar cara menghargai orang lain.
Tapi setelah pikir-pikir kedua, kurasa menulis biografi dengan tujuan seperti itu tidak baik. Kurasa alih-alih berfokus pada perbedaan, kurasa lebih penting berfokus pada persamaan. Misal: aku bisa saja membuat 1000 biografi yang berbeda-beda tapi kalau kita mundur sedikit, kita bisa sadar bahwa ke-1000 orang itu makan, minum dan tidur, bernapas. Lalu kita mengambil 1 langkah mundur lagi, lalu sadar bahwa ke-1000 orang itu menunjukkan reaksi tertentu ketika memuji atau mengumpati mereka. Lalu kita mengambil beberapa langkah mundur lagi, lalu kita menyadari bahwa ke-1000 orang itu diciptakan oleh Allah SWT.
Nah kan, sebenarnya yang disebut-sebut sebagai perbedaan itu tidak terlalu besar dan penting kan. Lebih penting hal-hal yang disebutkan di atas. Selain itu, konon katanya selalu lebih penting untuk berfokus pada hal-hal yang besar. Aku tidak terlalu mengerti pernyataan itu, toh Big Bang itu bermula dari sebuat neutron. Tapi memang sih kalau dipikir lagi, “Bagaimana neutron itu bermula ya?”
Kurasa itulah bagian besarnya dan tidak akan pernah membuat kita jemu memikirkan “hal-hal penting”.
gw pernah denger tuh, Mario Teguh yang bilang. tapi ada lanjutannya. fokus pada hal-hal besar, lalu lakukan hal2 kecil untuk mewujudkan yang besar itu.
kalo gak salah gitu